Jakarta – Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mencatatkan pembalikan arah yang signifikan pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (2/10/2026).
Emiten sektor pertambangan mineral ini ditutup menguat 3,64% atau 20 poin ke level Rp 570 per saham.
Kenaikan ini terjadi tepat setelah dua petinggi perusahaan melakukan aksi borong saham di tengah tren pelemahan harga.
Kedua direktur yang dimaksud adalah Adika Aryasthana Bakrie dan Muhammad Sulthon.
Berdasarkan laporan keterbukaan informasi yang dikutip dari Laporan Resmi Perusahaan, Sabtu (3/10/2026), aksi korporasi tersebut dilakukan secara bertahap sejak akhir September hingga awal Oktober 2026.
Adika Aryasthana Bakrie tercatat melakukan akumulasi saham dalam tiga sesi transaksi berbeda.
Pada 22 September 2026, Adika membeli 750.500 saham dengan harga Rp 665 per lembar.
Tiga hari kemudian, tepatnya 25 September 2026, ia kembali menambah kepemilikan sebanyak 372.400 saham di harga Rp 670 per lembar.
Aksi berlanjut pada 28 September 2026, di mana Adika memborong 389.900 saham dengan harga Rp 640 per lembar.
Total transaksi yang dilakukan Adika mencapai nilai sekitar Rp 998,1 juta dengan kepemilikan akhir sebanyak 1.512.800 saham.
Sementara itu, Direktur Muhammad Sulthon turut melakukan pembelian saham pada 1 Oktober 2026.
Sulthon mengakumulasi sebanyak 180.500 saham melalui tiga tahapan harga yang berbeda, yakni Rp 545, Rp 555, dan Rp 565 per saham.
Total nilai transaksi yang dilakukan Sulthon mencapai sekitar Rp 100,21 juta.
Dengan transaksi tersebut, porsi kepemilikan saham langsung Sulthon meningkat tajam dari 40.000 menjadi 220.500 saham.
Secara keseluruhan, kedua direktur tersebut telah menyerap 1.693.300 saham BRMS dengan nilai total mencapai Rp 1,10 miliar.
Keterangan resmi perusahaan menyebutkan bahwa aksi pembelian saham oleh jajaran direksi ini ditujukan murni untuk kepentingan investasi pribadi.
Rebound yang terjadi pada perdagangan Jumat (2/10/2026) menjadi sinyal positif bagi investor setelah tekanan jual yang cukup dalam sebelumnya.
Sebelum menguat, saham BRMS sempat terpuruk dengan penurunan 6,78% pada 1 Oktober dan 6,06% pada 28 September 2026.
Secara akumulatif, dalam kurun waktu 30 hari terakhir, harga saham BRMS sempat terkoreksi hingga 21,9%.
Pergerakan harga pada Jumat lalu berada di rentang harga Rp 540 hingga Rp 580 per saham.
Meskipun aksi beli oleh direksi sering kali dianggap sebagai sinyal kepercayaan internal terhadap prospek perusahaan, pelaku pasar diimbau tetap berhati-hati.
Pergerakan harga saham di masa depan tetap akan bergantung pada dinamika pasar serta kinerja fundamental perusahaan.
Sentimen eksternal dan perkembangan operasional tambang akan menjadi faktor penentu utama bagi pergerakan harga BRMS ke depannya.


















