Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia tengah menguat seiring naiknya produksi dalam negeri. Kondisi itu, kata dia, semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia.
Amran mengatakan Indonesia memegang peran penting di pasar global sawit, terutama jika CPO diolah menjadi produk turunan bernilai tambah. Ia menilai dominasi Indonesia di sektor ini membuat banyak negara bergantung pada pasokan dari Tanah Air.
“Kalau CPO kita olah menjadi margarin, kosmetik, dan produk turunan lainnya, dunia akan sangat bergantung pada Indonesia. Kita kuasai lebih dari 60 persen pasar dunia. Artinya Indonesia sangat menentukan,” ujar Amran di Jakarta, Sabtu (18/4).
Kinerja ekspor CPO dan produk turunannya, menurut dia, kembali menunjukkan kekuatan Indonesia sebagai pemain utama di pasar internasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dari Antara mencatat nilai ekspor CPO dan turunannya pada Januari-Februari 2026 mencapai 4,69 miliar dolar Amerika Serikat (AS).
Angka itu naik 26,40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 3,71 miliar dolar AS. Kenaikan juga terlihat pada volume ekspor, dari 3,33 juta ton menjadi 4,54 juta ton.
Lonjakan tersebut menunjukkan permintaan dunia terhadap produk berbasis sawit Indonesia masih tinggi. Di saat yang sama, kondisi itu memperkuat daya saing komoditas sawit di pasar internasional.
Amran juga merujuk pernyataan resmi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) pada 13 Maret 2026. Berdasarkan data tersebut, produksi CPO Indonesia sepanjang 2025 mencapai 51,66 juta ton, naik 7,26 persen atau sekitar 3,5 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.
Total produksi CPO dan PKO (palm kernel oil) juga meningkat menjadi 56,55 juta ton, atau naik 7,18 persen.
Dari sisi perdagangan, ekspor produk sawit Indonesia sepanjang 2025 turut mencatat pertumbuhan kuat. Volume ekspor mencapai 32,34 juta ton, naik 9,51 persen. Nilai ekspor bahkan menembus 35,87 miliar dolar AS, melonjak 29,23 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Amran menilai penguatan ekspor sawit tidak lepas dari strategi hilirisasi yang terus didorong pemerintah. Menurut dia, peluang terbesar justru terletak pada pengembangan produk turunan yang lebih luas, mulai dari minyak goreng hingga berbagai kebutuhan industri.
Indonesia saat ini memang menjadi produsen sekaligus eksportir sawit terbesar di dunia. Selain CPO mentah, produk olahan seperti minyak goreng, biodiesel, hingga bahan baku industri makanan dan kosmetik semakin mendominasi pasar ekspor.
“Tren ini menunjukkan pergeseran penting dari ekspor berbasis komoditas mentah menuju ekspor berbasis industri,” tegasnya.
Penguatan ekspor minyak goreng juga dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasar global sekaligus memperluas pasar Indonesia di berbagai negara tujuan. Dengan kebutuhan minyak nabati dunia yang terus naik, posisi Indonesia disebut semakin strategis dalam rantai pasok global.
Ke depan, Kementerian Pertanian akan terus memperkuat ekosistem sawit dari hulu hingga hilir. Upaya itu mencakup peningkatan produktivitas kebun, efisiensi industri pengolahan, hingga perluasan akses pasar ekspor.
“Dengan tren positif ini, sektor sawit tidak hanya menjadi penopang devisa negara, tetapi juga pilar utama dalam memperkuat ekonomi nasional berbasis pertanian dan industri hilir yang berdaya saing global,” kata Amran.





















