Jakarta – Harga emas dunia diprediksi akan kembali melanjutkan tren penguatan akibat eskalasi konflik geopolitik global yang semakin memanas. Berdasarkan data Trading Economics, harga emas saat ini telah menyentuh level US$ 4.715 per troy ons, mencatatkan kenaikan sebesar 2,24 persen dalam sepekan terakhir dan melesat 9,17 persen secara year to date.
Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan pergerakan harga emas akan sangat bergantung pada dinamika ketegangan di Eropa Timur dan Timur Tengah. Menurutnya, konflik yang melibatkan Rusia-Ukraina serta perselisihan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang memicu kenaikan harga komoditas logam mulia ini.
Untuk pergerakan sepekan ke depan, Ibrahim memprediksi support pertama harga emas dunia berada di level US$ 4.520 per troy ons, dengan harga logam mulia domestik di angka Rp 2.786.000 per gram. Jika tekanan jual kembali terjadi, harga diperkirakan dapat menyentuh support kedua di US$ 4.389 per troy ons atau sekitar Rp 2.750.000 per gram.
Sebaliknya, jika sentimen pasar mendukung penguatan, resistance pertama diperkirakan mencapai US$ 4.702 per troy ons dengan harga logam mulia di level Rp 2.866.000 per gram. Dalam skenario bullish, harga emas berpotensi menembus level resistance berikutnya di US$ 4.851 per troy ons, yang mengerek harga logam mulia hingga Rp 2.900.000 per gram.
Ibrahim menegaskan bahwa meski Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata tetap berlaku di tengah konflik AS-Iran, pasar tetap merespons dengan penuh kehati-hatian. Ketidakpastian geopolitik tersebut diyakini akan terus menjaga tren kenaikan harga emas sebagai aset safe haven di tengah gejolak pasar global.
Secara keseluruhan, pelaku pasar perlu mencermati rentang harga logam mulia pada pekan depan yang diproyeksikan bergerak di antara Rp 2.750.000 hingga Rp 2.900.000 per gram. Risiko eskalasi militer yang lebih luas dipandang sebagai katalis utama yang dapat mendorong harga emas menembus level tertinggi baru.



















