Rupiah Terus Melemah, Pasar Waspadai Beban Utang Pemerintah Indonesia

persen

Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali tertekan di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir pekan lalu. Mata uang Garuda ditutup melemah 0,29 persen ke level Rp 17.382 per dolar AS pada Jumat (8/5/2026), dibandingkan hari sebelumnya di level Rp 17.333 per dolar AS. Secara akumulatif, rupiah mencatatkan koreksi sebesar 0,27 persen dalam sepekan terakhir.

Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi menyatakan, pelemahan rupiah dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari kondisi domestik maupun eksternal yang memengaruhi persepsi risiko investor terhadap pasar negara berkembang.

Dari sisi domestik, pelaku pasar tengah menyoroti peningkatan utang pemerintah. Data menunjukkan utang pemerintah per 31 Maret 2026 telah menembus angka Rp 9.920,42 triliun, atau setara dengan 40,75 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut mengalami kenaikan hampir 3 persen dibandingkan posisi akhir tahun 2025 yang sebesar Rp 9.637,9 triliun.

Selain utang, kondisi fiskal turut menjadi perhatian. Hingga kuartal I-2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp 240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB, dengan realisasi pembiayaan utang telah mencapai Rp 258,7 triliun. Meski rasio utang masih di bawah ambang batas internasional 60 persen, berbagai lembaga global mulai mencermati beban bunga utang terhadap penerimaan negara.

Sementara dari faktor eksternal, eskalasi konflik antara AS dan Iran menjadi pemberat utama. Meningkatnya ketegangan tersebut memupus harapan pasar mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh, sekaligus memicu kekhawatiran terkait gangguan distribusi minyak dan gas dunia. Kondisi ini secara langsung mendorong penguatan dolar AS dan menekan mata uang regional.

Memasuki awal pekan depan, investor akan memantau rilis data ketenagakerjaan AS, yakni non-farm payrolls periode April. Data ini diprediksi menjadi acuan penting bagi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Fed.

Ibrahim memproyeksikan pergerakan rupiah pada perdagangan Senin (11/5) akan berada dalam kisaran Rp 17.380 hingga Rp 17.430 per dolar AS.

Rekomendasi