Jakarta – Pasar komoditas emas diprediksi masih akan mengalami volatilitas tinggi hingga penghujung tahun 2026.
Pergerakan harga logam mulia ini dinilai belum menunjukkan indikasi kuat untuk kembali ke jalur penguatan dalam waktu dekat.
Ketidakpastian arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) menjadi faktor utama yang membatasi potensi kenaikan harga emas saat ini.
Group Head of Operations Syailendra Capital, Syanne Gracetinne Polii, menyatakan bahwa dalam kurun waktu tiga hingga enam bulan ke depan, harga emas berpotensi bergerak mendatar atau mengalami koreksi jangka pendek.
“Dalam kurun waktu pendek, mungkin sekitar 3 sampai 6 bulan, harga emas either cenderungnya sideways atau koreksi short-term saja,” ujar Syanne di Jakarta, Senin (31/8/2026).
Tekanan terhadap instrumen investasi emas sejatinya telah terjadi sejak awal tahun ini.
Data mencatat harga emas sempat mengalami koreksi sedalam 26 persen sepanjang periode Januari hingga Juni 2026.
Penurunan tersebut tercatat sebagai koreksi terdalam yang dialami emas dalam kurun waktu satu dekade terakhir.
Syanne menyebutkan beberapa faktor pemicu utama di balik pelemahan tersebut.
Faktor-faktor itu meliputi perubahan regulasi leverage, aksi ambil untung oleh investor, hingga dinamika gejolak geopolitik global.
Kondisi tersebut menuntut investor untuk lebih cermat dalam memantau perkembangan makroekonomi sebelum menentukan langkah investasi.
Meski jangka pendek dipenuhi tantangan, prospek jangka panjang emas dinilai masih memiliki fondasi yang cukup solid.
Salah satu penopang utama adalah aksi masif dari bank sentral di berbagai negara.
Menurut Syanne, bank sentral kini cenderung memanfaatkan setiap momentum koreksi harga untuk menambah cadangan emas mereka.
“Bank Sentral sekarang itu lumayan action-nya jadi kayak dip buyers gitu. Every single correction yang terjadi di emas mereka akan memanfaatkan untuk membeli emas dan meningkatkan cadangan emasnya,” jelasnya.
Pembelian oleh bank sentral ini diproyeksikan mampu menjadi bantalan bagi harga emas di tengah potensi volatilitas pasar.
Sementara itu, Chief Executive Officer Syailendra Capital, Fajar R. Hidajat, menekankan pentingnya peran emas sebagai instrumen diversifikasi portofolio.
“Emas memiliki karakteristik yang unik dalam sebuah portofolio. Walaupun bersifat non-yielding asset, namun emas mampu menjadi portfolio diversifier karena korelasi yang bisa berbeda dengan aset keuangan lainnya,” kata Fajar.
Fajar juga menyoroti perubahan akses bagi investor yang kini tidak lagi terbatas pada kepemilikan emas fisik.
Perkembangan instrumen Exchange Traded Fund (ETF) berbasis emas kini menawarkan fleksibilitas lebih bagi investor di pasar modal.
Inovasi produk seperti Reksa Dana Syariah Syailendra ETF Sharia Gold (XSGO) menjadi contoh bagaimana akses terhadap logam mulia menjadi lebih transparan.
“Perkembangan cara investasi emas melalui ETF membuat setiap investor bisa lebih mudah memperoleh eksposur terhadap emas melalui infrastruktur pasar modal yang fleksibel, transparan, dan terstruktur,” ujar Fajar.
Investor tetap disarankan untuk memahami risiko fluktuasi harga serta faktor fundamental yang memengaruhi pasar emas secara mendalam.
















