Wall Street Memerah, Konflik AS-Iran Dorong Kenaikan Harga Minyak Dunia

Ikhwan Setiawan

Wall Street Memerah, Konflik AS-Iran Dorong Kenaikan Harga Minyak Dunia

New York – Bursa saham Amerika Serikat mengawali perdagangan Senin (31/8/2026) di zona merah akibat sentimen negatif yang menyelimuti pasar global.

Indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 97,4 poin atau 0,18% ke level 53.462,6 pada pembukaan sesi perdagangan.

Penurunan serupa dialami oleh indeks S&P 500 yang melemah 14,2 poin atau 0,18% menjadi 7.697,52.

Indeks Nasdaq Composite pun turut tertekan dengan penurunan sebesar 43,9 poin atau 0,17% ke posisi 26.358,559.

Gejolak geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama kecemasan investor di awal pekan ini.

Konflik militer tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hingga 1,71% yang berpotensi memicu kembali tekanan inflasi.

Gangguan pada jalur distribusi minyak di Selat Hormuz semakin memperkeruh sentimen pasar yang sudah rapuh.

Kondisi ini menambah kekhawatiran terhadap prospek pasar saham selama September yang secara historis merupakan periode perdagangan yang lemah.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar kini menaruh perhatian besar pada arah kebijakan moneter Federal Reserve.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September melonjak hingga hampir 60%.

Angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan posisi 41,4% pada sepekan sebelumnya.

Ekspektasi pasar berubah setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, memberikan sinyal keras mengenai kebijakan suku bunga.

Warsh menyatakan bahwa pembuat kebijakan mungkin terpaksa menaikkan biaya pinjaman jika inflasi gagal kembali ke target 2%.

“Dia menghilangkan peluang pemangkasan suku bunga dari meja,” kata Thomas Kikis, Head of Markets U.S. and Americas di Standard Chartered.

Menurut Kikis, pernyataan tersebut menegaskan komitmen The Fed terhadap sikap moneter yang lebih ketat.

Pernyataan Warsh yang disampaikan pada simposium Jackson Hole Jumat lalu kini menjadi acuan utama arah kebijakan bank sentral.

Investor kini menantikan rilis data ketenagakerjaan nonfarm payrolls pada 4 September mendatang untuk mendapatkan gambaran ekonomi lebih jelas.

“Pelaku pasar menantikan data nonfarm payrolls AS dengan lebih waspada, yang kemungkinan menjadi sorotan utama perdagangan pekan ini di tengah ketidakpastian kebijakan moneter yang meningkat,” ujar Kyle Rodda, Analis Pasar Keuangan Senior Capital.com.

Di balik tekanan pasar, sektor teknologi dan energi menunjukkan pergerakan yang kontras.

Saham semikonduktor seperti Nvidia, Intel, dan Lam Research mencatatkan penguatan di tengah optimisme sektor kecerdasan buatan.

David Chao, Strategis Pasar Global Asia Pasifik Invesco, menyatakan bahwa sektor bertema pertumbuhan struktural seperti AI masih menjadi favorit investor.

Sementara itu, saham perusahaan energi seperti Halliburton dan Valero Energy ikut menguat seiring kenaikan harga minyak.

Pada sektor lain, saham GameStop melonjak 3,53% setelah perusahaan memutuskan untuk tidak melakukan dilusi saham lebih lanjut.

Di pasar kripto, harga Bitcoin tetap stabil di atas level US$ 78.000 dengan saham terkait seperti Coinbase ikut menguat.

Rekomendasi

Tinggalkan komentar