New York – Harga emas dunia menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada penutupan perdagangan akhir pekan, Sabtu (12/9/2026), setelah sempat mengalami tekanan jual yang cukup signifikan pada sesi-sesi sebelumnya.
Logam mulia di pasar spot tercatat menguat 0,76% dan berakhir di level 4.350,36.
Meskipun mencatatkan kenaikan harian, akumulasi harga emas sepanjang pekan ini masih terkoreksi sebesar 1,82%.
Para pelaku pasar kini tengah mencermati dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat yang akan diputuskan pada pertemuan Federal Reserve minggu depan.
Data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja (BLS) pada Jumat menunjukkan kenaikan sebesar 0,4% pada bulan Agustus.
Angka tersebut mencerminkan percepatan inflasi dibandingkan kenaikan bulan Juli yang hanya berada di level 0,1%.
Pergerakan harga emas saat ini dianggap sebagai upaya pembentukan titik dasar jangka pendek oleh para investor.
“Emas pulih dengan cepat setelah penurunan singkat, karena data IHK tampaknya memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed minggu depan,” ujar Tai Wong, seorang pedagang logam independen, dikutip dari Reuters.
Menurut Wong, volatilitas pasar logam mulia mulai mereda karena pelaku pasar telah mengantisipasi langkah bank sentral tersebut.
Data CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan mendatang melonjak hingga 87%.
Angka tersebut meningkat drastis dibandingkan posisi 67% yang tercatat sebelum data inflasi terbaru diumumkan ke publik.
Sebelumnya, harga emas sempat tertekan hampir 2% pada Kamis lalu menyusul rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS.
Data PPI bulan Agustus tersebut mengonfirmasi bahwa tekanan inflasi di tingkat produsen masih sesuai dengan proyeksi pasar.
Di sisi lain, pergerakan harga emas berjangka AS terpantau stagnan dengan penutupan di level US$ 4.408,90 per ons.
Dinamika harga minyak mentah yang sempat terkoreksi namun tetap berada di jalur kenaikan mingguan turut memengaruhi sentimen pasar komoditas.
Tingginya harga energi memicu kekhawatiran inflasi berkelanjutan, yang secara teoretis memberikan tantangan bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.
Biasanya, emas berfungsi sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, namun suku bunga tinggi cenderung menekan daya tarik logam mulia tersebut.
Sementara itu, dari sisi permintaan fisik, terdapat perbedaan tren yang cukup kontras di pasar global.
Permintaan emas di India terpantau lesu sepanjang pekan ini akibat fluktuasi harga yang membuat para pembeli cenderung menahan diri.
Sebaliknya, minat investasi terhadap komoditas emas di Tiongkok dilaporkan tetap kuat meskipun pasar global sedang berada dalam fase penyesuaian.

















