Jakarta – Harga solar di Amerika Serikat (AS) melonjak hingga menembus US$5 atau setara Rp85 ribu per galon pada 17 Maret lalu. Kenaikan ini dipicu oleh guncangan pasokan minyak akibat perang di Timur Tengah.
Kenaikan harga solar di AS telah mencapai sekitar 40 persen sejak konflik dimulai. Kondisi ini diperkirakan akan berdampak signifikan pada ekonomi, mengingat solar banyak digunakan untuk transportasi logistik.
Kepala Analisis Minyak GasBuddy, Patrick De Haan, memperkirakan konsumen akan mulai merasakan dampaknya pada April mendatang. Kenaikan harga berpotensi terjadi di supermarket dan pada pesanan online.
“Ini benar-benar akan memicu inflasi tambahan dengan cepat,” ujar De Haan, Jumat (20/3).
Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menambahkan bahwa konsumen juga telah merasakan dampak kenaikan harga bensin dan tiket pesawat akibat mahalnya biaya bahan bakar jet.
“Namun, dampak penuh dari kenaikan harga solar belum terasa dan hal itu akan merembes ke seluruh perekonomian dalam beberapa bulan ke depan,” kata Lipow.
Lonjakan harga minyak dipicu oleh penurunan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz akibat serangan Iran. Selat ini merupakan jalur laut vital untuk ekspor minyak dunia, dengan sekitar 20 persen pasokan global melewati jalur tersebut.
Produksi minyak dari negara-negara Arab di Teluk juga dipangkas karena keterbatasan ruang penyimpanan minyak mentah akibat penutupan efektif Selat Hormuz. Badan Energi Internasional (IEA) menyebut ini sebagai gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.
Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan pemerintah memiliki rencana untuk meningkatkan pasokan solar.
“Kami memiliki beberapa ide mengenai solar, bahwa kami dapat memasok solar tambahan ke pasar,” kata Wright.
Badan Perlindungan Lingkungan (EPA) telah menangguhkan sementara pembatasan penjualan bahan bakar campuran yang mengandung 15 persen etanol (E15). Penangguhan ini berlaku mulai 1 Mei hingga 20 Mei, namun dapat diperpanjang.
“Kami akan terus memantau pasokan bersama mitra industri dan pemerintah federal,” kata Kepala EPA, Lee Zeldin.
AS juga telah melepas 172 juta barel minyak dari cadangan strategisnya sebagai bagian dari upaya global untuk menyuntikkan 400 juta barel ke pasar.
Selain itu, aturan pengiriman yang ketat berdasarkan Undang-Undang Jones juga ditangguhkan selama 60 hari. Pengecualian ini memungkinkan kapal asing mengantarkan minyak dan gas ke AS, berpotensi mengurangi biaya transportasi.




















