Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan pada akhir sesi I perdagangan Jumat (24/4) dan ditutup melemah 3,06 persen atau 225,75 poin ke level 7.152.
Mengutip RTI Business, IHSG sempat dibuka di posisi 7.378 dan bergerak ke level tertinggi 7.383 pada awal perdagangan. Namun, tekanan jual yang terus berlanjut membuat indeks berbalik arah hingga menyentuh level terendah 7.147 sebelum penutupan sesi pertama.
Pada perdagangan sesi I, hanya 90 saham yang menguat. Sebanyak 642 saham melemah, sementara 82 saham bergerak stagnan.
Aktivitas transaksi juga terpantau ramai dengan volume mencapai 28,64 miliar saham. Nilai transaksi tercatat Rp13,24 triliun, frekuensi perdagangan mencapai 1,66 juta kali, dan kapitalisasi pasar berada di kisaran Rp12.805,52 triliun.
Dari sisi investor asing, pasar mencatat aksi jual bersih sebesar Rp978,65 miliar di seluruh pasar. Pada pasar reguler, investor asing juga membukukan jual bersih Rp1,36 triliun, sedangkan di pasar negosiasi dan tunai terjadi beli bersih Rp385,80 miliar.
Transaksi masih didominasi investor domestik dengan porsi sekitar 84,50 persen dari volume perdagangan. Adapun investor asing menyumbang 15,50 persen.
Dari sisi nilai transaksi, investor domestik berkontribusi 71,36 persen, sementara investor asing 28,64 persen. Total nilai transaksi hingga sesi I tercatat mencapai Rp20,5 triliun.
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan IHSG dipicu kombinasi sentimen global dan domestik. Ia menilai ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan pasar.
“Pelemahan IHSG dipengaruhi memanasnya situasi geopolitik, termasuk isu gencatan senjata di Timur Tengah yang berpotensi tidak berlanjut, serta meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Jumat (24/4).
Selain itu, pasar juga menerima tekanan dari penurunan prospek kredit sejumlah bank besar di Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings.
“Fitch menurunkan prospek kredit beberapa bank besar dari stabil menjadi negatif, seperti Bank Mandiri, BRI, BCA, dan BNI, yang turut menekan pergerakan pasar,” jelasnya.
Meski demikian, Ibrahim menyebut masih ada sentimen yang menahan pelemahan lebih dalam, yakni rencana peningkatan impor minyak mentah Indonesia.
“Ada sentimen positif dari rencana impor minyak mentah yang cukup besar, sehingga sedikit menahan tekanan pada IHSG,” ujar Ibrahim lebih lanjut.




















