HSBC Proyeksikan IHSG Tembus 7.500, Soroti Tantangan Rupiah dan MSCI

persen

JAKARTA – HSBC memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menyentuh level 7.500 pada akhir 2026. Optimisme ini didorong oleh fundamental pasar saham Indonesia yang dinilai masih kuat, meski saat ini tengah menghadapi tekanan jangka pendek akibat sentimen global dan fluktuasi nilai tukar rupiah.

Chief Asia Equity Strategist HSBC Global Investment Research, Herald van der Linde, menyatakan bahwa posisi IHSG saat ini sudah cukup dekat dengan target tersebut. Meskipun pada perdagangan Jumat (24/4/2026) IHSG sempat tertekan 3,06 persen ke level 7.152,85, ia menegaskan bahwa angka 7.500 merupakan target tahunan yang tetap relevan.

Tekanan yang dialami pasar modal saat ini dipicu oleh sejumlah sentimen, di antaranya arus keluar modal asing (capital outflow) dan ketidakpastian kebijakan MSCI terkait rebalancing saham Indonesia. Herald menilai kejelasan dari MSCI sangat krusial bagi investor global dalam menentukan alokasi investasi portofolio mereka.

Di tengah ketidakpastian ini, aliran dana asing cenderung lebih fluktuatif pada saham-saham berkapitalisasi besar di sektor perbankan, telekomunikasi, dan konsumer. Sebaliknya, sektor energi dan utilitas justru dipandang lebih diuntungkan oleh volatilitas global akibat kenaikan harga minyak yang menopang kinerja emiten.

Secara regional, pasar Indonesia dinilai lebih stabil dibandingkan negara lain seperti Korea Selatan. Hal ini terjadi karena investor asing telah melakukan penyesuaian posisi atau pengurangan eksposur sebelumnya, sehingga dampak guncangan saat ini lebih teredam.

Managing Director sekaligus Chief India Economist and ASEAN Economist HSBC Global Investment Research, Pranjul Bhandari, menambahkan bahwa stabilitas pasar keuangan domestik sangat bergantung pada keseimbangan eksternal. Langkah Bank Indonesia dalam mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen dinilai sebagai strategi tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Ke depannya, Indonesia dinilai memiliki ruang untuk tumbuh lebih besar melalui peningkatan likuiditas dan diversifikasi sektor. Masifnya penawaran umum perdana saham atau IPO diharapkan dapat menambah daya tarik pasar modal Indonesia bagi investor global, sekaligus menjaga keseimbangan arus modal asing maupun investasi langsung ke dalam negeri.

Rekomendasi