Jakarta – Pasar modal Indonesia kini tengah berada dalam tekanan berat yang memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan merosot tajam dari level 9.200 ke posisi 5.900, sebuah penurunan yang menyamai kondisi krisis keuangan global tahun 2008.
Pelemahan ini berdampak pada saham-saham perbankan besar, termasuk PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Kondisi tersebut dipicu oleh aksi jual investor asing yang mulai menarik dananya dari pasar domestik akibat rendahnya kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah dan prospek perekonomian ke depan.
Ekonom Senior Indef, Didik J. Rachbini, mendesak pemerintah agar segera menunjukkan sense of crisis atau kesadaran akan krisis. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi yang terlihat di atas kertas tidak cukup untuk membendung runtuhnya kepercayaan investor saat ini.
Didik menilai pemulihan ekonomi hanya dapat dicapai melalui kepastian hukum, konsistensi kebijakan, dan pengelolaan APBN yang lebih prudent. Ia memperingatkan bahwa pembengkakan belanja negara untuk proyek baru tanpa evaluasi memadai justru akan terus mengusir investor dan memicu permintaan dolar AS yang tinggi, sehingga menekan nilai tukar rupiah.
Menanggapi gejolak pasar tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai bahwa pelemahan IHSG dan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh persepsi atau sentimen negatif yang tidak sesuai dengan kondisi fundamental ekonomi nasional.
Purbaya memastikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga, tercermin dari kinerja APBN yang kuat serta pertumbuhan aktivitas ekonomi di berbagai daerah yang masih positif. Hingga Mei 2026, realisasi belanja negara tercatat mencapai Rp 1.365,4 triliun atau tumbuh 34,4 persen secara tahunan.
Guna membalikkan sentimen pasar, pemerintah bersama Bank Indonesia berkomitmen mempererat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. Langkah ini dilakukan untuk menekan persepsi negatif dan memulihkan kembali kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.





















