Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 7,57 persen ke level 5.746,64 pada penutupan perdagangan Selasa (9/6/2026). Penguatan tajam ini menjadi oase bagi pelaku pasar setelah indeks mengalami tekanan jual yang cukup dalam selama beberapa pekan terakhir.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menyatakan bahwa reli IHSG kali ini merupakan hasil dari kombinasi sentimen positif domestik dan eksternal. Secara internal, wacana mengenai aksi beli kembali atau buyback saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang digulirkan melalui diskusi antara pemerintah, DPR, dan perbankan Himbara telah memberikan suntikan optimisme bagi investor lokal.
Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa pemerintah mulai menaruh perhatian lebih serius terhadap stabilitas pasar modal nasional. Sentimen ini berhasil memperbaiki psikologi pasar yang sempat terpuruk akibat tren koreksi selama beberapa waktu terakhir.
Di sisi global, meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memberikan dampak positif terhadap sentimen risiko atau risk-on sentiment. Kesepakatan penghentian serangan sementara antara Iran dan Israel memicu penurunan harga minyak dunia, yang kemudian mendorong bursa saham Asia, termasuk Indonesia, untuk mengalami rebound.
Meskipun terjadi penguatan, Hendra mengingatkan para pelaku pasar agar tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa tren penurunan IHSG telah berakhir. Aksi beli yang terjadi saat ini dinilai lebih didorong oleh fenomena bargain hunting atau aksi borong saham-saham yang valuasinya telah jatuh ke level yang sangat murah.
Data perdagangan menunjukkan bahwa investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp 1,5 triliun pada hari ini. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kepercayaan investor global terhadap aset domestik belum sepenuhnya pulih. Selain itu, kebijakan moneter Bank Indonesia yang mempertahankan suku bunga acuan di level 5,50 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi tantangan tersendiri.
Suku bunga tinggi berpotensi meningkatkan biaya dana bagi emiten, yang pada akhirnya dapat menekan profitabilitas dan meningkatkan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) di sektor perbankan. Tantangan ini juga diperkirakan membebani konsumsi domestik dan permintaan kredit secara luas.
Untuk perdagangan Rabu (10/6/2026), IHSG diprediksi akan bergerak dalam rentang konsolidasi antara 5.500 hingga 5.890. Jika stabilitas domestik terjaga dan sentimen global tetap kondusif, indeks memiliki peluang untuk menguji level psikologis di kisaran 6.000 hingga 6.300 dalam jangka pendek.
Bagi investor dengan cakrawala investasi jangka menengah hingga panjang, momentum saat ini dianggap sebagai peluang untuk melakukan akumulasi saham secara bertahap. Beberapa saham blue chip seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dengan target harga Rp 2.760, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) di level Rp 4.300, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) di level Rp 3.420, serta PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan target Rp 2.930 dinilai layak untuk dicermati di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.
























