Jakarta – Pemerintah Indonesia mulai melakukan intervensi signifikan di pasar obligasi mulai Senin (18/5) guna menjaga stabilitas pasar keuangan nasional sekaligus menahan potensi arus keluar modal asing. Langkah ini diambil menyusul pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merespons ketidakpastian geopolitik global.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa langkah masuk ke pasar obligasi ini bertujuan untuk mengendalikan pasar agar investor asing tidak melakukan aksi jual surat utang. Kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi kerugian dari penurunan harga obligasi sebelumnya memicu kekhawatiran arus modal keluar yang lebih masif.
Menurut Purbaya, intervensi ini juga diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Pihaknya memastikan bahwa langkah ini dilakukan lebih agresif dibandingkan sebelumnya, setelah perbankan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) melakukan langkah serupa meski dengan skala yang terbatas.
Purbaya menekankan bahwa pelemahan IHSG saat ini murni disebabkan oleh sentimen jangka pendek terkait kebijakan suku bunga tinggi dan dampak konflik antara Amerika Serikat dengan Iran yang memicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Ia menjamin bahwa secara fundamental, ekonomi Indonesia tetap berada dalam kondisi kuat.
Pemerintah fokus jaga fundamental ekonomi
Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan fondasi ekonomi tidak terganggu oleh fluktuasi pasar sesaat. Purbaya menegaskan bahwa pemerintah akan terus memantau perkembangan dan melakukan perbaikan agar kepercayaan investor tetap terjaga di tengah situasi global yang tidak menentu.
Sebelumnya, pada perdagangan Senin (18/5), IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah 94,34 poin atau 1,40 persen ke level 6.628,98. Kondisi serupa juga dialami oleh indeks LQ45 yang terkoreksi 9,37 poin atau 1,42 persen ke posisi 648,51.






















