Jakarta – Bursa kripto Indonesia, PT Central Finansial X (CFX), resmi meluncurkan indeks kripto perdana di tanah air yang diberi nama CFX10 pada Minggu (9/8/2026).
Langkah strategis ini bertujuan menyediakan tolok ukur bagi investor dalam memantau dinamika pasar aset digital di Indonesia.
Indeks CFX10 mengintegrasikan 10 aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar sebagai konstituen utamanya.
Daftar aset tersebut mencakup sejumlah mata uang digital utama seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), BNB, XRP, hingga Solana (SOL).
Kehadiran indeks ini diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi pasar secara menyeluruh.
Co-founder CryptoWatch dan Pengelola Channel Duit Pintar, Christopher Tahir, menyatakan bahwa instrumen ini menjadi acuan penting bagi para investor.
“Indeks ini akan hanya cenderung membantu untuk melihat gambaran umum dari kondisi pasar crypto secara keseluruhan. Hal ini tentunya dapat membantu investor untuk menjadikan ini sebagai acuan secara umum,” ujarnya, Minggu (9/8/2026).
Christopher menambahkan, indeks tersebut meminimalisir ketergantungan investor dalam memantau pergerakan harga pada satu aset tunggal saja.
Peluncuran ini bertepatan dengan tren pertumbuhan signifikan pada ekosistem aset kripto domestik.
Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat nilai transaksi aset kripto mencapai Rp 28,58 triliun pada Juni 2026.
Angka tersebut mencerminkan lonjakan sebesar 24,20 persen secara bulanan.
Selain nilai transaksi, basis pengguna aset kripto di Indonesia juga terus bertambah.
Hingga akhir Juni 2026, jumlah akun konsumen aset kripto telah menyentuh angka 22,69 juta akun.
Data tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 21,32 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Meski transaksi meningkat, analis menilai pasar kripto Indonesia belum sepenuhnya memasuki fase pemulihan yang terstruktur.
Pergerakan harga Bitcoin, sebagai aset dengan kapitalisasi pasar terbesar, masih cenderung berada dalam fase sideways.
Berdasarkan pantauan per pukul 17.04 WIB, harga Bitcoin berada di level US$ 64.844 atau terkoreksi 0,17 persen dalam kurun waktu 24 jam.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, memprediksi pasar kripto pada semester II 2026 masih akan berada dalam fase konsolidasi.
“Untuk Agustus, skenario dasar menunjukkan harga Bitcoin cenderung bergerak dalam rentang terbatas,” jelas Yudhono.
Menurutnya, tren kenaikan harga baru akan terbuka lebar apabila terdapat penurunan pada imbal hasil riil.
Faktor lain yang menjadi penentu adalah konsistensi arus dana masuk atau inflow pada ETF Bitcoin.
Meskipun ditekan oleh sentimen makroekonomi, Bitcoin dinilai masih memiliki ketahanan yang cukup kuat.
Sepanjang Juli 2026, Bitcoin mencatatkan kenaikan sekitar 7,5 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan jual akibat likuidasi posisi leverage telah melandai.
Yudhono memproyeksikan pergerakan harga Bitcoin ke depan akan tetap fluktuatif dengan rentang antara US$ 75.000 hingga US$ 225.000.
Rentang harga yang lebar ini mencerminkan tingginya sensitivitas aset kripto terhadap kebijakan moneter global dan regulasi.



















