Jakarta – PT PLN (Persero) mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 6,84 persen menjadi Rp 582,68 triliun sepanjang tahun lalu. Meski mencatatkan kenaikan pendapatan, laba bersih perusahaan justru mengalami penurunan sebesar 59,12 persen secara tahunan (year on year) menjadi Rp 7,26 triliun.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menjelaskan bahwa penurunan laba bersih tersebut dipicu oleh tekanan rugi selisih kurs sebesar Rp 12,46 triliun. Kondisi ini merupakan dampak langsung dari volatilitas nilai tukar global yang menekan performa keuangan perusahaan.
Kendati menghadapi tantangan kurs, PLN mencatat kenaikan signifikan pada volume penjualan tenaga listrik yang mencapai 317,69 Terawatt hour (TWh) atau tumbuh 3,75 persen. Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan jumlah pelanggan yang bertambah 3,3 juta menjadi total 96,2 juta pelanggan.
Seiring dengan bertambahnya basis pelanggan, daya tersambung juga meningkat 5,82 persen menjadi 192.621 Megavolt Ampere (MVA). Dampaknya, pendapatan dari sektor penyambungan pelanggan melonjak 28,4 persen atau setara Rp 2,24 triliun.
Darmawan menyebut, peningkatan penyambungan pelanggan ini menjadi indikator positif atas tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat serta pelaku dunia usaha. Capaian ini juga didukung oleh program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) yang menyasar masyarakat di wilayah pelosok.
Menurut Darmawan, ketersediaan akses listrik hingga ke daerah terpencil menjadi kunci dalam mendukung pemerataan pembangunan nasional. Pihaknya berkomitmen untuk terus memperkuat transformasi perusahaan sekaligus memastikan kebutuhan listrik masyarakat terpenuhi dengan andal.
Di tengah dinamika global, PLN tetap berupaya menjaga stabilitas kinerja perusahaan. Darmawan menegaskan bahwa stabilitas ekonomi dan energi nasional yang dijaga pemerintah menjadi pondasi utama bagi perusahaan dalam memastikan pasokan listrik tetap terjaga bagi masyarakat dan sektor bisnis.
























