Jakarta – Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar atau big banks bergerak variatif sepanjang perdagangan pekan ini di tengah tekanan sentimen global dan pelemahan nilai tukar rupiah. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) berhasil mencatatkan penguatan, sementara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) justru terkoreksi.
BBCA memimpin penguatan dengan kenaikan 2,52% ke level Rp 6.100, diikuti oleh BBNI yang naik 1,04% ke posisi Rp 3.870. Di sisi lain, BBRI melemah 1,27% ke level Rp 3.120, sedangkan BMRI mencatat penurunan paling dalam sebesar 6,87% ke level Rp 4.200 seiring dengan periode ex-date dividen.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menjelaskan bahwa tekanan pada saham big banks dipicu oleh sentimen rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI). Meskipun saham bank besar tidak masuk dalam daftar yang dikeluarkan, pengurangan nilai agregat Indonesia memicu investor asing untuk melakukan aksi jual atau rebalancing portofolio.
Selain faktor MSCI, pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp 17.500 turut menjadi beban. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi kinerja perbankan ke depan, terutama dengan tren kenaikan provisi yang mulai terlihat pada kuartal I-2026.
Meski dihantui volatilitas jangka pendek, analis KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai fundamental big banks tetap solid. Ia memprediksi kinerja perbankan akan lebih agresif pada kuartal II-2026 didorong oleh stabilnya kualitas aset, potensi pertumbuhan kredit, serta dukungan stimulus pemerintah.
Wafi merekomendasikan investor untuk melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham perbankan besar yang dinilai sudah berada di valuasi murah. Secara khusus, ia menyoroti potensi pertumbuhan segmen UMKM pada BBRI, stabilitas pendapatan BMRI, serta valuasi rendah pada BBNI.
Senada dengan hal tersebut, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menyatakan bahwa likuiditas tinggi dan fundamental yang kuat akan menahan arus keluar dana asing lebih jauh. Meski demikian, ia memperingatkan bahwa volatilitas pasar kemungkinan masih akan berlanjut hingga akhir Mei 2026.
Nafan menetapkan target harga atau take profit untuk masing-masing emiten, yakni BBCA di Rp 8.350, BBRI di Rp 3.670, BBNI di Rp 4.520, dan BMRI di Rp 5.650. Selama pekan ini, catatan transaksi asing menunjukkan BBCA dan BMRI mengalami net sell masing-masing sebesar Rp 245,93 miliar dan Rp 1,41 triliun, sementara BBNI dan BBRI justru mencatatkan net buy sebesar Rp 44,59 miliar dan Rp 120,83 miliar.



















