Sentimen Geopolitik Bayangi Rupiah, Kurs Berpotensi Tembus Rp18.000 per Dolar

persen

Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali tertekan di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan di pasar spot Jumat (15/5/2026) pukul 13.01 WIB, mata uang Garuda melemah sebesar 0,46% ke level Rp 17.610 per dolar AS.

Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan bahwa gejolak geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama pelemahan ini. Ketegangan di Selat Hormuz meningkat setelah adanya laporan kapal kargo India yang tenggelam di perairan lepas pantai Oman, ditambah dengan aktivitas latihan perang yang dilakukan Iran.

Selain faktor eksternal, kebijakan moneter Amerika Serikat turut memberikan tekanan pada rupiah. Pergantian kepemimpinan The Fed dari Jerome Powell ke Kevin Warsh memicu spekulasi bahwa bank sentral AS tidak akan menurunkan suku bunga pada tahun 2026. Hal ini didorong oleh laju inflasi AS yang masih tinggi akibat lonjakan harga bahan bakar, sehingga indeks dolar AS berpotensi tetap kuat.

Dari sisi domestik, beban anggaran untuk subsidi minyak mentah menjadi tantangan berat bagi nilai tukar rupiah. Ibrahim memprediksi, jika tren negatif ini berlanjut, rupiah berisiko menembus level Rp 18.000 per dolar AS pada bulan Mei dan bahkan berpotensi menyentuh angka Rp 22.000 per dolar AS pada Agustus mendatang.

Menghadapi situasi tersebut, Ibrahim menilai Bank Indonesia (BI) berada dalam posisi yang sulit antara mempertahankan atau menaikkan suku bunga. Meskipun BI terus melakukan intervensi di pasar internasional untuk menjaga stabilitas, opsi menaikkan suku bunga pada rapat dewan gubernur (RDG) berikutnya dinilai sebagai langkah yang sangat mungkin diambil untuk meredam pelemahan mata uang lebih jauh.

Rekomendasi