Beirut – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan serangan militer ke kawasan pinggiran selatan Beirut, Dahiyeh, pada Senin (1/6). Langkah ini memperburuk eskalasi konflik di Lebanon sekaligus mengancam upaya mediasi diplomatik yang tengah diupayakan untuk mengakhiri perselisihan antara Iran dan pihak terkait.
Netanyahu menegaskan bahwa Israel tidak akan membiarkan markas Hizbullah di Dahiyeh tetap aman sementara wilayah dan warga Israel terus menjadi target serangan. Pernyataan tersebut sekaligus menandai perluasan aktivitas militer Israel, yang kini semakin intensif memperdalam operasi darat serta memperluas zona keamanan di wilayah Lebanon selatan.
Aksi militer ini menuai kritik keras dari pemerintah Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa serangan Israel di Lebanon menjadi hambatan utama dalam proses diplomatik. Ia menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan syarat mutlak yang tidak dapat dipisahkan dari setiap kesepakatan damai yang ada.
Gelombang serangan terbaru ini memicu kepanikan warga yang tinggal di kawasan Dahiyeh. Ribuan orang kini kembali mengungsi, menambah daftar panjang krisis kemanusiaan di Lebanon yang sebelumnya telah menggusur lebih dari 1 juta penduduk. Warga terlihat berbondong-bondong meninggalkan wilayah tersebut menuju zona yang dianggap lebih aman, seperti Tripoli di bagian utara Lebanon.
Pihak kantor Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa perintah serangan dikeluarkan sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan oleh Hizbullah. Israel mengklaim operasi ini bertujuan untuk memberikan perlindungan maksimal bagi warga di wilayah utara Israel yang kerap menjadi sasaran tembakan kelompok militan tersebut.
Kondisi ini menciptakan situasi yang ironis bagi para pengungsi. Banyak warga yang sempat kembali setelah pengumuman gencatan senjata pada 16 April lalu, kini harus kembali menempuh perjalanan panjang di tengah kemacetan jalanan Beirut untuk menyelamatkan diri. Hingga kini, permusuhan di wilayah Lebanon selatan masih terus berkecamuk, memperpanjang ketidakpastian nasib warga sipil di tengah pusaran perang.
























