Jakarta – Sektor industri semen nasional diproyeksikan terus mencatatkan kinerja positif hingga penutupan tahun 2026.
Optimisme ini didorong oleh akselerasi pembangunan infrastruktur serta peningkatan aktivitas konstruksi yang konsisten di berbagai wilayah.
Volume penjualan semen domestik menunjukkan tren pertumbuhan yang solid sepanjang tujuh bulan pertama tahun ini.
Data menunjukkan total penjualan semen nasional mencapai 36,1 juta ton hingga Juli 2026 atau meningkat 9,5 persen secara tahunan (year-on-year).
Khusus untuk bulan Juli 2026, volume penjualan tercatat sebesar 6,1 juta ton atau tumbuh 5,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Brigita Kinari, menilai momentum pertumbuhan ini berpeluang besar berlanjut pada paruh kedua tahun 2026.
“Momentum ini berpotensi berlanjut pada 2H26, didukung musim yang lebih kering, peningkatan aktivitas konstruksi, dan percepatan proyek pemerintah,” ujar Brigita dikutip dari keterangan resmi, Rabu (26/8/2026).
Peningkatan permintaan tersebut tidak hanya berpusat di Pulau Jawa, tetapi juga meluas ke wilayah luar Jawa.
Konsumsi semen di luar Jawa tercatat tumbuh 12 persen secara tahunan pada semester pertama 2026.
Wilayah Sulawesi mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 21 persen, diikuti oleh Indonesia Timur yang tumbuh 13 persen.
Salah satu bukti nyata penguatan permintaan terjadi di Aceh, di mana penyerapan stok di titik distribusi sempat mengalami lonjakan signifikan pada Juli 2026.
Lonjakan tersebut dipicu oleh percepatan perbaikan infrastruktur dan rehabilitasi rumah warga pascabencana.
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) merespons kondisi ini dengan mengoptimalkan kapasitas produksi dari fasilitas di Lhoknga dan Lhokseumawe.
Pasokan tambahan juga didatangkan dari pabrik Semen Padang di Indarung untuk menjaga kelancaran distribusi.
Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, menyatakan bahwa perseroan terus melakukan penyesuaian pasokan guna memenuhi kebutuhan pasar yang meningkat di Aceh.
“SIG memaksimalkan kapasitas produksi dan distribusi untuk memastikan kebutuhan semen di Aceh terpenuhi,” kata Vita dalam keterangannya.
Meski volume penjualan tumbuh positif, para analis tetap mewaspadai adanya tantangan margin keuntungan bagi emiten semen.
Tekanan biaya energi, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta persaingan ketat pangsa pasar menjadi faktor yang harus dimitigasi perusahaan.
Brigita menambahkan bahwa disiplin harga serta efisiensi operasional menjadi kunci bagi emiten untuk mempertahankan profitabilitas.
Terkait prospek saham, ia menilai PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) memiliki keunggulan dari sisi perbaikan fundamental.
Sementara itu, SMGR dipandang memiliki keunggulan kompetitif melalui skala bisnis yang besar dan eksposur luas terhadap proyek infrastruktur nasional.
“INTP lebih unggul dari sisi potensi perbaikan fundamental, sementara SMGR unggul dari sisi eksposur terhadap pemulihan permintaan dan proyek infrastruktur nasional,” jelas Brigita.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Andreas Saragih, turut menyoroti bahwa pertumbuhan konsumsi semen yang lebih kuat dari perkiraan dapat menjadi katalis positif bagi emiten hingga akhir tahun.
Namun, ia mengingatkan adanya risiko makroekonomi seperti kebijakan suku bunga, inflasi, dan dampak cuaca ekstrem yang perlu dicermati pelaku pasar.


















