Palangka Raya – Arus modal asing terpantau keluar dari pasar saham dalam negeri menyusul pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang sempat menyentuh level Rp17.300. Kondisi ini membuat pasar modal domestik berada di bawah tekanan berat akibat ketidakpastian ekonomi yang masih membayangi.
Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kalimantan Tengah, Stephanus Cahyo Adiraja, menyatakan bahwa pelemahan rupiah bukan disebabkan oleh faktor tunggal. Selain sentimen global akibat konflik di Iran, kondisi fiskal dan tata kelola domestik turut menjadi pemicu utama.
Menurut Stephanus, selama ketidakpastian global dan domestik terus berlanjut, mata uang Garuda masih berisiko melanjutkan tren pelemahan. Saat ini, rupiah bergerak pada rentang teknikal Rp17.140 hingga Rp17.340 per dolar AS.
Level Rp17.340 menjadi batas psikologis krusial. Jika level tersebut tertembus, rupiah berpotensi mengalami pelemahan yang lebih signifikan. Sebaliknya, jika mampu menembus ke bawah Rp17.140, mata uang domestik ini diproyeksikan bisa menguat kembali ke level Rp16.900.
Dampak fluktuasi ini pun terlihat jelas pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kini tertahan di posisi 7.106,52. Stephanus memaparkan bahwa secara teknikal, terdapat risiko penurunan menuju level 6.745 jika IHSG menembus angka 6.942.
Meski demikian, pasar masih memiliki peluang untuk bangkit. Jika indeks mampu bertahan, terdapat potensi untuk kembali menguat ke level 7.450 dengan target pergerakan jangka menengah di posisi 7.982.





















