Saham Eropa Stabil, Investor Cermati Data AS dan Kinerja Obligasi

persen

LONDON/SYDNEY – Pasar keuangan global bergerak dengan arah bervariasi awal pekan ini, didorong oleh lonjakan saham teknologi China dan ketegangan pada obligasi Eropa, sementara investor menanti data ekonomi Amerika Serikat yang krusial. Libur perdagangan di Wall Street pada Senin turut mewarnai pergerakan ini.

Saham teknologi China menjadi bintang utama. Di Hong Kong, saham Alibaba melonjak tajam hingga 18,5%. Kenaikan signifikan ini terjadi setelah raksasa e-commerce tersebut melaporkan pendapatan bisnis komputasi awan yang melesat berkat pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).

Kontras dengan Asia, indeks saham Eropa cenderung stabil. Indeks acuan STOXX 600 hanya menguat tipis 0,1%, meski sempat terdorong data manufaktur yang membaik. Namun, obligasi Eropa berjangka panjang tetap berada di bawah tekanan.

Fokus investor kini bergeser ke Amerika Serikat, yang akan merilis serangkaian data ekonomi penting sepanjang pekan. Mulai dari survei manufaktur dan jasa, hingga puncaknya pada laporan ketenagakerjaan non-farm payrolls Agustus di hari Jumat. Konsensus memperkirakan penambahan 75.000 lapangan kerja, dengan proyeksi tingkat pengangguran naik menjadi 4,3%.

Pasar tenaga kerja menjadi penentu utama arah kebijakan Federal Reserve. “Banyak yang memperkirakan pasar kerja mulai mendingin sehingga bisa membuka jalan pemangkasan suku bunga pada September. Namun situasinya belum sepenuhnya jelas,” kata Samy Chaar, Kepala Ekonom Lombard Odier. Prospek suku bunga yang lebih rendah menopang Wall Street mendekati rekor tertinggi.

Di sisi lain, kekhawatiran datang dari kebijakan tarif AS era Donald Trump yang dinyatakan ilegal sebagian oleh pengadilan banding, menciptakan ketidakpastian perdagangan. Selain itu, upaya Trump menggugat independensi The Fed juga menjadi sorotan, dengan Gubernur The Fed Lisa Cook dijadwalkan akan mengajukan argumen terkait upaya pemecatannya.

Di Eropa, Prancis menjadi pusat perhatian politik. Perdana Menteri Francois Bayrou memulai perundingan dengan partai-partai untuk mencegah keruntuhan pemerintahan dalam pemungutan suara kepercayaan pekan depan. Kegagalan pemerintah berpotensi memicu ketidakpastian politik dan pemilu dini.

“Peluang pemerintah gagal dalam voting sangat besar. Kami tetap pesimis terhadap Prancis dan memperkirakan selisih imbal hasil obligasi Prancis-Jerman melebar menuju 90 basis poin,” ujar Mohit Kumar, Kepala Ekonom Eropa di Jefferies. Kekhawatiran fiskal global juga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang Eropa. Imbal hasil obligasi Jerman tenor 30 tahun mencapai level tertinggi 14 tahun di 3,38%.

Kenaikan imbal hasil obligasi Eropa turut mendongkrak nilai tukar euro, yang menguat 0,25% menjadi US$1,1711. Sementara itu, di pasar komoditas, emas menunjukkan penguatan. Logam mulia ini naik hingga 1,1% ke level tertinggi empat bulan di US$3.489,5 per ons, didorong pelemahan dolar dan prospek suku bunga yang lebih rendah.

Harga minyak juga bergerak naik. Minyak mentah Brent ditutup menguat 1% menjadi US$68,2 per barel, terdorong pelemahan dolar dan gangguan pasokan akibat konflik Rusia-Ukraina. Meski demikian, kekhawatiran lonjakan produksi dan dampak tarif AS terhadap permintaan masih menjadi tekanan.

Rekomendasi