Jakarta – PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) menyiapkan langkah mitigasi strategis untuk meredam dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) yang kini berada di level 5,50%. Perseroan memfokuskan penguatan struktur pendanaan melalui peningkatan porsi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) sebagai instrumen utama dalam menjaga efisiensi biaya dana atau cost of fund di tengah volatilitas pasar.
Direktur Bisnis Bank Raya, Kicky Andrie Davetra, menegaskan bahwa perusahaan telah memproyeksikan perubahan suku bunga tersebut sejak dini. Strategi utama yang dijalankan adalah akselerasi produk dan layanan perbankan digital untuk menjaring nasabah baru sekaligus meningkatkan aktivitas transaksi. Dengan mengoptimalkan ekosistem digital, Bank Raya berupaya mengurangi ketergantungan pada dana berbiaya tinggi yang cenderung membebani margin perbankan saat suku bunga naik.
Data kinerja hingga kuartal I-2026 menunjukkan tren positif bagi Bank Raya. Rasio CASA perusahaan tercatat mencapai 28%. Selain itu, nilai digital saving perseroan mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 64,3% menjadi Rp 2,3 triliun, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka Rp 1,4 triliun. Secara keseluruhan, total Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Raya tetap stabil di angka Rp 8,4 triliun per kuartal I-2026.
Kicky menambahkan, fokus pertumbuhan simpanan ke depan akan lebih mengandalkan akuisisi nasabah melalui platform digital daripada sekadar menawarkan suku bunga tinggi untuk menarik penempatan dana. Inovasi teknologi dipandang sebagai kunci untuk menciptakan struktur pendanaan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Terbukti, dalam kurun waktu satu tahun terakhir, Bank Raya telah meluncurkan 111 inovasi fitur pada aplikasi Raya dan berkomitmen untuk terus menambah pengembangan fitur sepanjang tahun ini untuk mempermudah akses nasabah.
Kebijakan kenaikan BI Rate sebesar 25 basis poin yang diumumkan pada Selasa (9/6/2026) tersebut juga berdampak pada penyesuaian suku bunga Deposit Facility menjadi 4,50% dan Lending Facility menjadi 6,25%. Bank Indonesia menyatakan bahwa pengetatan kebijakan moneter ini merupakan langkah krusial untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang sempat mengalami tekanan eksternal di luar ekspektasi.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa otoritas moneter perlu menempuh langkah lanjutan guna memperkuat kurs rupiah. Strategi tersebut dilakukan dengan meningkatkan imbal hasil aset keuangan domestik agar daya tarik investasi asing tetap terjaga. Bagi sektor perbankan seperti Bank Raya, kebijakan ini menjadi tantangan sekaligus momentum untuk memperkuat fundamental melalui diversifikasi sumber dana yang lebih murah dan efisien agar tetap kompetitif dalam ekosistem keuangan nasional yang dinamis. Perseroan optimistis bahwa basis nasabah yang terbentuk melalui kanal digital akan menjadi bantalan kuat dalam menghadapi tantangan suku bunga tinggi di masa mendatang.
























