bbca
Kode keras saham BBCA
Mei. 4, 2026
Jul. 11, 2026
IHSG kembali mencatatkan reli selama dua hari berturut-turut, namun penguatan ini dibayangi oleh aksi jual masif dari investor asing. BBCA dan BBRI menjadi saham dengan nilai net sell terbesar di tengah tekanan jual asing yang mencapai Rp421,51 miliar pada perdagangan akhir pekan.
Jul. 5, 2026
Saham perbankan kompak menguat pada penutupan perdagangan Jumat (3/7/2026). Penguatan ini merupakan rebound ketiga berturut-turut setelah IHSG sempat berada di level 5.643 pada 30 Juni 2026. Saham bank berkapitalisasi besar pun tampil sumringah setelah ditutup di zona hijau. Pada penutupan Jumat (3/7/2026), saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi jawara setelah melonjak 4,37% ke Rp 6.050. Disusul, PT Bank Mandiri...
Mei. 4, 2026
Emiten perbankan raksasa milik Grup Djarum PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mengirim sinyal optimistis kepada para pelaku pasar di tengah tren koreksi sahamnya.
Okt. 22, 2025
Saham BCA melonjak setelah investor asing memborong saham empat hari beruntun seiring kinerja keuangan yang solid.
Okt. 16, 2025
Tiga saham blue chip Indonesia, BBCA, TLKM, dan ICBP, masuk produk SDR di SGX, memperkuat konektivitas pasar modal ASEAN dan meningkatkan akses investor Singapura.
Sep. 1, 2025
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman menjelaskan pergerakan saham dipengaruhi dua faktor, yakni fundamental dan persepsi.
Direktur PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), George Oetomo, merealisasikan keuntungan dengan menjual saham perseroan saat mencapai rekor harga tertinggi pada September 2026. Meski sempat melepas sebagian kepemilikan, ia juga melakukan aksi beli kembali sebagai langkah investasi pribadi.

PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) bersiap melakukan rights issue dengan menerbitkan 215,096 miliar saham baru seharga Rp 126 per lembar. Aksi korporasi ini berpotensi menghimpun dana hingga Rp 27,1 triliun untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan.

Pasar saham Asia mengalami tekanan jual tajam setelah tokoh kunci industri menyerukan perlambatan pengembangan AI akibat kekhawatiran risiko keselamatan. Sentimen negatif ini memicu pelemahan signifikan pada sektor semikonduktor dan perusahaan teknologi besar di bursa regional.

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) mencatatkan lonjakan kinerja fantastis pada semester I-2026 dengan pendapatan neto meroket 1.958,68% menjadi Rp926,45 miliar. Pertumbuhan masif ini turut diikuti oleh kenaikan laba bersih hingga 340,02% serta penguatan posisi aset perusahaan yang signifikan.






