New York – Indeks saham di bursa Amerika Serikat (AS) cenderung bergerak variatif pada perdagangan Senin (18/5/2026). Pergerakan pasar ini dipicu oleh meredanya tekanan pada pasar obligasi serta penurunan harga minyak mentah dunia.
Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun tercatat turun ke level 4,573%, setelah sempat menyentuh angka 4,631% yang merupakan level tertinggi sejak Februari 2025. Penurunan yield ini memberikan sentimen positif, terutama bagi sektor teknologi dan saham-saham berbasis pertumbuhan yang sangat sensitif terhadap biaya modal.
Sebaliknya, harga minyak Brent mengalami koreksi hampir 2%. Penurunan ini dipicu oleh kabar mengenai usulan AS untuk memberikan pelonggaran sementara sanksi minyak terhadap Iran, yang secara langsung meredakan kekhawatiran pelaku pasar terkait potensi gangguan pasokan global.
Senior Portfolio Manager Dakota Wealth, Robert Pavlik, menilai bahwa dinamika yield obligasi saat ini menjadi kunci utama bagi pergerakan saham, khususnya di sektor kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, valuasi saham pertumbuhan sangat bergantung pada proyeksi laba masa depan, sehingga kenaikan yield akan memberikan tekanan pada nilai saham saat ini.
Hingga pukul 10:02 waktu New York, indeks Dow Jones Industrial Average berhasil menguat 0,28% ke posisi 49.665,42. Sementara itu, indeks S&P 500 mencatatkan kenaikan tipis 0,04% ke level 7.411,61, namun indeks Nasdaq Composite justru melemah 0,14% ke 26.189,22.
Secara sektoral, penguatan indeks didorong oleh sektor keuangan dan layanan konsumen. Di sisi lain, sektor teknologi dan energi justru menjadi pemberat laju bursa.
Pelaku pasar saat ini tengah menanti laporan kinerja keuangan NVIDIA Corporation yang dijadwalkan rilis pada Rabu mendatang. Ekspektasi pasar terhadap laporan ini cukup tinggi mengingat saham NVIDIA telah melonjak 36% dari posisi terendah pada Maret lalu. Selain itu, investor juga mencermati laporan keuangan Walmart untuk mengukur ketahanan daya beli masyarakat AS di tengah inflasi dan tingginya harga energi.
Di level korporasi, saham Dominion Energy melonjak tajam 10,5% merespons rencana akuisisi senilai US$66,8 miliar oleh NextEra Energy. Sebaliknya, saham Regeneron Pharmaceuticals anjlok 11,5% setelah uji klinis obat mereka dilaporkan gagal mencapai target utama.
Selain faktor domestik, pasar juga mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, terdapat probabilitas sekitar 38,8% kenaikan suku bunga akan terjadi pada Januari mendatang.





















