Yield Obligasi Naik, Korporasi Susun Ulang Strategi Penerbitan Surat Utang

persen

Jakarta – Tren kenaikan imbal hasil (yield) obligasi negara mulai memberikan tekanan pada biaya pendanaan korporasi. Kenaikan yield obligasi tenor 10 tahun yang merangkak naik ke level 6,5% dari posisi 6% di awal 2026, kini memaksa emiten mewaspadai potensi kenaikan beban utang pada sisa tahun ini.

Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, menjelaskan bahwa meski secara rata-rata kupon pada kuartal I-2026 masih terlihat rendah, kondisi pasar mulai mengalami perubahan sejak akhir Februari lalu. Kenaikan yield saat ini dipicu oleh dua faktor utama, yakni peningkatan suku bunga acuan serta pelebaran spread di pasar obligasi.

Data PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menunjukkan rata-rata kupon surat utang korporasi tenor 3 tahun sempat berada di level yang kompetitif pada awal tahun. Untuk emiten berperingkat AAA, rata-rata kupon berada di kisaran 5,5%, jauh lebih rendah dibandingkan puncak periode 2018-2019 yang mencapai 8,5% hingga 9,0%. Tren penurunan serupa juga dirasakan oleh emiten berperingkat AA dengan kupon di kisaran 5,5% hingga 6,0%.

Fikri memprediksi kenaikan yield yang signifikan ini akan memengaruhi strategi emiten dalam menerbitkan surat utang. Korporasi kemungkinan besar akan menunda penerbitan obligasi yang ditujukan untuk belanja modal atau ekspansi yang bersifat tidak mendesak.

Kendati demikian, penerbitan untuk kebutuhan operasional, modal kerja, dan refinancing diperkirakan tetap berjalan. Pergeseran tujuan penggunaan dana terlihat jelas pada kuartal I-2026, di mana porsi modal kerja melonjak drastis hingga Rp 30,91 triliun, naik hampir 60% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Alokasi untuk investasi juga mencatatkan lonjakan signifikan dari Rp 2,28 triliun pada kuartal I-2025 menjadi Rp 15,60 triliun pada periode yang sama tahun ini. Sebaliknya, porsi dana untuk refinancing justru melandai ke angka Rp 12,85 triliun dari sebelumnya Rp 25,05 triliun.

Di sisi lain, investor kini bersikap lebih konservatif dalam merespons ketidakpastian pasar. Fikri menyebut investor cenderung melakukan strategi risk-off dengan lebih memilih tenor obligasi yang lebih pendek. Hal ini selaras dengan data Pefindo yang mencatat mayoritas surat utang yang diterbitkan sepanjang Januari hingga Maret 2026 didominasi oleh tenor lima tahun, satu tahun, dan tiga tahun.

Rekomendasi