Jakarta – Indonesia menghadapi ancaman krisis pangan global dengan posisi yang berbeda dibandingkan negara lain. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan kondisi pangan nasional relatif kuat, bahkan membuka peluang ekspor.
“Indonesia Alhamdulillah, orang (negara lain) was-was,” ujar Amran di Jakarta Selatan, Rabu (15/4). Ia menilai situasi ini berkat kebijakan pemerintah dalam menjaga produksi dan stok pangan nasional.
Dengan cadangan beras yang hampir menyentuh 6 juta ton, pemerintah membuka peluang ekspor ke pasar internasional. “Kalau ini bisa kita atasi dua-tiga bulan ke depan, nah itu bisa kita ekspor ke negara lain,” katanya.
Pemerintah melalui Perum Bulog mulai menjajaki ekspor beras, termasuk rencana pengiriman 200 ribu ton ke Malaysia dalam waktu dekat. Langkah ini merupakan strategi memanfaatkan momentum kelebihan produksi dalam negeri.
Amran menegaskan rencana ekspor dilakukan karena stok dalam negeri melimpah. Pemerintah bahkan menyewa gudang tambahan untuk menampung cadangan beras yang mendekati 6 juta ton, jauh di atas rata-rata historis.
Dinamika global seperti konflik geopolitik justru membuka peluang bagi sektor pertanian nasional. Kenaikan ekspor menjadi salah satu dampak positif yang berhasil dimanfaatkan Indonesia.
“Kalau ada geopolitik memanas atau apapun, kondisi kalau ada reaksi-reaksi, kalau ada krisis atau apapun, pasti ada sisi positifnya. Manfaatkan sisi positifnya. Nah, itulah pertanian, memanfaatkan momentum ini. Mumpung harganya bagus, kita genjot ekspor,” jelasnya.
Kinerja ekspor sektor pertanian menunjukkan peningkatan signifikan dengan nilai mencapai lebih dari Rp160 triliun, sementara impor mengalami penurunan sekitar Rp41 triliun. Tren ini mengindikasikan penguatan sektor pangan nasional di tengah tekanan global.
Fenomena menarik terjadi di tingkat daerah, di mana peningkatan ekspor membuat sebagian pelaku merasa diuntungkan dari kondisi krisis global. “Bahkan yang aku lucu, dari kampungnya, Konsel (Konawe Selatan), Kolaka, Sulawesi Tenggara, ada yang bertanya, ‘Pak, kapan lagi krisis?’ Ngerti maksudku? Karena ekspor ini digenjot, betul,” tutur dia.Jakarta – Indonesia menghadapi ancaman krisis pangan global dengan posisi yang berbeda dibandingkan negara lain. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan kondisi pangan nasional relatif kuat, bahkan membuka peluang ekspor.
“Krisis pangan dunia dihadapi karena ada El Nino Godzilla. Tulis judulnya Indonesia Alhamdulillah. Indonesia Alhamdulillah orang (negara lain) was-was,” ujar Amran di kantornya, Jakarta Selatan, Rabu (15/4).
Kondisi ini, menurut Amran, berkat kebijakan pemerintah dalam menjaga produksi dan stok pangan nasional. Dengan cadangan beras yang hampir menyentuh 6 juta ton, pemerintah membuka peluang penyaluran kelebihan produksi ke pasar internasional.
“Kalau ini bisa kita atasi dua-tiga bulan ke depan, nah itu bisa kita ekspor ke negara lain,” katanya.
Pemerintah mulai menjajaki ekspor beras melalui Perum Bulog, termasuk rencana pengiriman 200 ribu ton ke Malaysia dalam waktu dekat. Langkah ini merupakan strategi memanfaatkan momentum kelebihan produksi dalam negeri.
Amran menegaskan rencana ekspor dilakukan karena stok dalam negeri melimpah. Pemerintah bahkan harus menyewa gudang tambahan untuk menampung cadangan beras. Stok beras nasional saat ini mendekati 6 juta ton, jauh di atas rata-rata historis.
Di sisi lain, dinamika global seperti konflik geopolitik justru membuka peluang bagi sektor pertanian nasional. Kenaikan ekspor menjadi salah satu dampak positif yang berhasil dimanfaatkan Indonesia.
“Kalau ada geopolitik memanas atau apapun, kondisi kalau ada reaksi-reaksi, kalau ada krisis atau apapun, pasti ada sisi positifnya. Manfaatkan sisi positifnya. Nah, itulah pertanian, memanfaatkan momentum ini. Mumpung harganya bagus, kita genjot ekspor,” jelasnya.
Kinerja ekspor sektor pertanian menunjukkan peningkatan signifikan dengan nilai mencapai lebih dari Rp160 triliun, sementara impor justru mengalami penurunan sekitar Rp41 triliun. Tren ini mengindikasikan penguatan sektor pangan nasional di tengah tekanan global.




















