Prihatin Kasus Keracunan MBG, Koalisi Suara Ibu Bikin Aksi Bawa Panci ke Bundaran UGM

persen

KOALISI Suara Ibu Indonesia mengajak masyarakat untuk turun ke jalan menyuarakan keprihatikan atas kasus keracunan massal di proyek makan bergizi gratis. Aktivis perempuan yang tergabung dalam koalisi tersebut, Kalis Mardiasih, mengatakan bahwa tumpukan kasus keracunan MBG yang menimpa ribuan siswa menimbulkan kesedihan mendalam.

Pilihan Editor:Polemik Bukti Gibran Pernah Sekolah: Ijazah atau Sertifikat

“Ada keprihatinan yang besar sampai puncaknya (keracunan ditetapkan menjadi) kejadian luar biasa di Bandung Barat kemarin,” kata Kalis saat dihubungi pada Jumat, 27 September 2025.

Penulis yang aktif di media sosial itu pun membagikan seruan koalisi Suara Ibu Indonesia ke Instagram pribadinya. Dalam poster yang ia unggah, aksi keprihatinan itu akan terpusat di Bundaran Universitas Gadjah Mada, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada hari ini pukul 16.00 WIB. Aksi ini secara khusus mengajak para ibu di Yogyakarta untuk membawa panci masing-masing dari rumah.

“Aksi membunyikan panci adalah simbol keprihatinan ibu terhadap KLB keracunan massal MBG (yang menimpa) pelajar putra dan putri di Bandung Barat serta wilayah lain di Indonesia,” demikian narasi yang tercantum dalam poster. Poster seruan ini juga diunggah oleh Jaringan Gusdurian di akun Instragramnya.

Aksi damai ini memiliki beberapa tuntutan, di antaranya:

1. Hentikan program MBG yang sentralistik dan militeristik

2. Menuntut pertanggungjawaban presiden, Badan Gizi Nasional, dan SPPG yang menyebabkan ribuan keracunan anak-anak sepanjang Januari-September 2025.

3. BGN membentuk tim pencari fakta mengusut kasus keracunan massal ini, menuntut transparansi pengungkapan kasus (sesuai mandat UU Kesehatan), dan memberikan hak pemulihan kepada korban.

4. Pemerintah mengusut praktik pemburu rente dan korupsi dalam program MBG yang dibiayai negara, dan menghentikan praktik tersebut.

5. Mengembalikan peran pemenuhan gizi anak ke komunitas dan daerah.5.

Sejak program MBG digulirkan pada Januari 2025 hingga September ini, Badan Gizi Nasional, Badan Pengawasan Obat dan Makanan, hingga Kementerian Kesehatan mencatat korban keracunan MBG berada di kisaran 5 ribu orang. Adapun Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat korban keracunan MBG per 21 September 2025 mencapai 6.452 kasus.

Angka itu dipastikan bertambah karena kasus keracunan MBG masih terjadi di berbagai daerah hingga saat ini. Misalnya, kasus keracunan MBG di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat dan Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat di akhir September ini.

Selanjutnya, sebanyak 364 anak menjadi korban keracunan MBG di Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, baru-baru ini. Pemerintah Kabupaten Bandung Barat sampai menetapkan kejadian luar biasa (KLB) terhadap keracunan MBG di daerahnya.

Akibat kasus keracunan massal itu, belakangan muncul desakan agar program makan bergizi gratis ini dihentikan sementara. Desakan datang dari Koalisi Masyarakat Sipil, di antaranya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Indonesia Corruption Watch (ICW), dan berbagai pihak lainnya.

Rekomendasi