Menteri Keuangan Tetap Optimistis Meski Rupiah Tembus 17.800 per Dolar

persen

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau anjlok hingga menembus level 17.800 pada penutupan perdagangan Rabu, 27 Mei 2026. Meski mata uang Garuda terus menjauh dari target asumsi makro APBN 2026 yang dipatok di kisaran 16.500 hingga 16.800, pemerintah menegaskan tidak akan melakukan hitung ulang terhadap anggaran negara.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah saat ini tergolong tidak wajar. Menurutnya, kondisi tersebut tidak masuk akal mengingat fundamental ekonomi nasional dalam keadaan baik.

“Biasanya pelemahan terjadi karena ada gangguan pada fundamental ekonomi, tapi saat ini tidak demikian,” ujar Purbaya usai mengikuti salat Idul Adha di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Rabu (27/5/2026).

Purbaya memastikan pemerintah telah mengalkulasi dampak pelemahan kurs sejak harga minyak dunia melonjak ke angka 100 dolar AS per barel akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Oleh karena itu, ia menyatakan tidak ada kekhawatiran berlebih terkait dampaknya terhadap APBN 2026.

Terkait sempat melemahnya nilai obligasi pemerintah akibat anjloknya kurs, Purbaya menegaskan bahwa saat ini imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) telah kembali stabil. Stabilitas tersebut dicapai setelah Kementerian Keuangan melakukan langkah intervensi guna menarik kembali minat modal asing ke pasar keuangan domestik.

Sementara itu, Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi memprediksi tren pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut selama libur panjang Idul Adha. Hal ini terjadi karena terbatasnya ruang intervensi Bank Indonesia di pasar domestik selama hari libur.

Ibrahim memperkirakan rupiah akan menghadapi tekanan eksternal yang cukup tinggi akibat gejolak di Timur Tengah dan kenaikan harga minyak dunia. Ia pun memproyeksikan mata uang RI berisiko mencapai titik terlemah baru di level 18.000 per dolar AS dalam pekan ini.

Rekomendasi