Payakumbuh – Payakumbuh Poetry Festival (PPF) 2025 menampilkan pertunjukan unik, yaitu sound poetry dan visual poetry. Pertunjukan ini menjadi suguhan menarik sejak malam pembukaan hingga hari kedua festival.
Karya-karya tersebut dipamerkan di Agamjua Art & Culture Cafe, Payakumbuh.
Pada malam pembukaan, penonton disuguhkan sound poetry berjudul “Setelah Bintang Jatuh” karya Mutia Elfisyah dan Kezia Salwa Alevia.
Kemudian, di malam kedua, giliran sound poetry karya Harry Kurniawan alias Ngik berjudul “Ruang Tunggu Polijiwa” yang ditampilkan.
Rencananya, visual poetry dan sound poetry kembali memeriahkan malam penutupan.
Karya-karya yang ditampilkan merupakan hasil Workshop Sound Poetry dan Workshop Visual Poetry yang diadakan sebelum festival, tepatnya pada 19-21 November 2025.
Direktur PPF 2025, Roby Satria, menjelaskan bahwa workshop ini bertujuan untuk mengembangkan bentuk sound poetry dan visual poetry lebih jauh.
“Jika pada PPF 2022 dan 2023 kita adakan sayembara, di tahun ini kita adakan workshop di mana para seniman bisa mengeksplorasi bentuk-bentuk baru sound poetry dan visual poetry dengan dampingan dari mentor terpilih,” ujarnya.
Sementara itu, Kurator PPF 2025, S Metron Masdison, mengamati perkembangan sound poetry dan visual poetry hasil workshop, baik dari segi isi maupun bentuk.
Metron juga menyoroti tantangan dalam mengembangkan kedua bentuk seni ini.
“Sound poetry dan visual poetry sendiri adalah bentuk seni yang bisa dikatakan baru, terutama di Indonesia, dalam arti belum terlalu dikenal dan banyak dipraktekkan. Ia juga cukup kompleks,” jelasnya.
Ia menambahkan, definisi baku dari kedua bentuk seni ini pun belum final.
Meski demikian, Metron optimis bahwa pengembangan sound poetry dan visual poetry akan semakin terbuka lebar di masa depan.
“Sound poetry dan visual poetry di PPF sudah lumayan menarik perhatian, baik di dalam atau luar negeri,” ungkapnya.
Ia mencontohkan, mentor Workshop Sound Poetry, Aldo Ahmad, baru-baru ini dihubungi oleh seorang musisi dari Australia yang tertarik dengan sound poetry.
“Jadi ke depannya, sangat mungkin PPF berkolaborasi dengan musisi tersebut untuk mengembangkan sound poetry di PPF tahun depan,” imbuhnya.
Eksplorasi alih wahana puisi ke bunyi dan visual menjadi salah satu fokus utama PPF.
Pada PPF 2023, penyair asal Filipina, Tulayan, berkolaborasi dengan PPF untuk mengembangkan visual poetry di kawasan Asia Tenggara.
Di tahun yang sama, PPF juga menggandeng pianis dan komposer Ananda Sukarlan untuk mengeksplorasi sound poetry.
Selain pertunjukan visual poetry dan puisi bunyi, PPF 2025 juga menggelar berbagai pertunjukan dan diskusi hybrid (daring dan luring).
Diskusi tahun ini diadakan secara hybrid karena sebagian narasumber dan tamu undangan berhalangan hadir di Payakumbuh akibat terdampak bencana.
PPF sendiri merupakan festival sastra yang mengangkat khazanah puisi Indonesia sebagai titik berangkat perayaan.
Di tahun keenam penyelenggaraannya, PPF mengusung tema “Antardunia dalam Puisi”.
Tema ini mengajak untuk merayakan puisi sebagai ruang pertemuan antara berbagai bentuk seni dan pengalaman budaya.
Puisi tidak hanya hadir sebagai teks, tetapi juga bisa menjelma menjadi suara, gambar, gerak, atau pertunjukan.
Melalui lintasan antar medium ini, puisi membuka kemungkinan untuk merasakan dan mengekspresikan dunia dengan cara yang baru.
Tema tersebut juga menyoroti pertemuan antara beragam pengalaman budaya, di mana bahasa, latar, dan tradisi yang berbeda saling bertukar makna.
“Antardunia dalam Puisi” juga merupakan jalan setapak untuk memahami bahwa setiap puisi membawa dunia lain yang bisa dimasuki bersama.
Dalam festival ini, puisi tidak hanya dilihat sebagai produk sastra tetapi juga bahan yang bisa dikembangkan melalui alih wahana ke medium-medium seni lainnya, seperti bunyi dan visual.























