Jakarta – Korea Selatan menaruh minat untuk berinvestasi dalam program pengelolaan sampah menjadi sumber listrik atau waste to energy yang tengah dikerjakan BPI Danantara.
Hal ini disampaikan Konsul Bidang Ekonomi Kedutaan Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Kim Chanwoo, saat menghadiri diskusi FPCI bertajuk APEC at the Crossroads: Building Bridges for Regional Growth di Jakarta, Senin (13/10) lalu.
Diskusi tersebut merupakan bagian dari program Indonesia Next Generation Journalist Network on Korea oleh FPCI dan Korea Foundation.
Kim menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan Korea memiliki ketertarikan terhadap proyek tersebut.
Selain itu, ia menyebut minat juga datang pada proyek penyimpanan atau transfer carbon credit di Indonesia, menandaskan bahwa perusahaan Korea belakangan semakin fokus pada inisiatif hijau dan energi terbarukan.
Karena itu, dia menilai konsep waste to energy yang dikembangkan Danantara berpotensi menarik minat investor Korea.
Sementara itu, Deputi Bidang Kerja Sama Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Tirta Nugraha Mursitama, menyampaikan bahwa banyak perusahaan yang telah berkomitmen untuk turut serta dalam menggarap proyek waste to energy tersebut.
BPI Danantara saat ini tengah menggarap proyek waste to energy. Dalam keterangan pada 6/11, CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa program itu masuk pada proses penjaringan investor, dengan sekitar 240 calon investor yang berminat berinvestasi.
Ia menambahkan rencana bidding akan dibuka minggu depan, untuk memasukkan penawaran, dengan ketersediaan lahan yang telah ada sebagai salah satu faktor penentu.
Rosan juga menyampaikan bahwa tujuh daerah berpotensi menjadi lokasi groundbreaking proyek, yang telah mendapatkan persetujuan dari Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq.
Proyek ini nantinya akan dilengkapi teknologi yang mumpuni, sehingga sampah dalam proses pengolahan tak perlu dipisah-pisahkan, berbeda dengan praktik saat ini.






















