Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengambil langkah mengejutkan dengan memberikan izin sementara penjualan minyak Iran di laut lepas. Kebijakan ini bertujuan meredam lonjakan harga energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengungkapkan izin berlaku selama 30 hari. Diharapkan, kebijakan ini dapat menambah sekitar 140 juta barel minyak ke pasar global.
“Berbarel-barel minyak Iran akan digunakan untuk menekan harga sambil kami melanjutkan operasi,” ujar Bessent, seperti dikutip dari Reuters.
Keputusan ini mencerminkan kekhawatiran Gedung Putih terhadap dampak kenaikan harga minyak terhadap ekonomi domestik. Terutama menjelang pemilu paruh waktu AS pada November mendatang.
Harga minyak dunia sendiri telah melonjak sekitar 50 persen sejak konflik di Timur Tengah memanas. Serangan terhadap infrastruktur energi dan potensi penutupan Selat Hormuz semakin memperburuk situasi.
Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia. Gangguan di wilayah ini dapat berdampak langsung pada distribusi energi global.
Dalam lisensi yang diterbitkan Departemen Keuangan AS, minyak Iran diperbolehkan dijual dan dikirim hingga 19 April. Kebijakan ini memungkinkan penyelesaian transaksi minyak yang sudah berada di laut.
Namun, sejumlah wilayah seperti Kuba, Korea Utara, dan Crimea dikecualikan dari kebijakan ini.
Ini menjadi kali ketiga dalam dua pekan terakhir AS melonggarkan sanksi energi terhadap negara yang selama ini menjadi lawannya. Sebelumnya, AS juga melakukan hal serupa terhadap minyak Rusia.
Kebijakan ini diperkirakan akan lebih menguntungkan negara-negara Asia, khususnya China sebagai pembeli terbesar minyak Iran.
Menteri Energi AS, Chris Wright, memperkirakan pasokan tersebut dapat tiba di Asia dalam tiga hingga empat hari. Selanjutnya, minyak akan masuk ke pasar setelah melalui proses pengolahan.
Meski demikian, pemerintah AS menegaskan Iran akan tetap kesulitan mengakses pendapatan dari penjualan tersebut. Washington juga memastikan tekanan maksimum terhadap Iran tetap diberlakukan, termasuk pembatasan akses ke sistem keuangan internasional.





















