Jakarta – Saham-saham berkapitalisasi besar yang tergabung dalam indeks LQ45 kini menjadi sorotan utama pelaku pasar setelah mengalami tekanan jual yang cukup dalam sepanjang tahun 2026.
Meskipun secara historis valuasi sejumlah saham blue chip berada di bawah rata-rata lima tahun terakhir, para analis memperingatkan bahwa harga murah belum tentu menjadi sinyal beli yang aman bagi investor.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menekankan bahwa penurunan rasio price to book value (PBV) di sektor perbankan memang terlihat signifikan.
Namun, ia menilai kondisi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan risiko fundamental yang mengintai sektor keuangan di tengah ketidakpastian ekonomi makro.
“Jadi valuasi yang turun saat ini belum sepenuhnya mencerminkan risiko kondisi ekonomi yang dihadapi sektor perbankan,” kata Harry, Rabu (2/7/2026).
Menurut Harry, potensi tekanan terhadap pertumbuhan kredit atau loan growth masih menjadi ancaman nyata bagi emiten perbankan.
Selain itu, kontraksi pada net interest margin (NIM) serta peningkatan rasio kredit bermasalah atau NPL diperkirakan akan memicu kenaikan biaya provisi di masa depan.
Di sisi lain, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyoroti bahwa banyak emiten blue chip kini diperdagangkan dengan price to earning ratio (PER) yang jauh di bawah rata-rata historisnya.
Data pasar menunjukkan BBCA kini diperdagangkan pada PER sekitar 11,9 kali, jauh lebih rendah dari rata-rata historisnya yang mencapai 17 kali.
Fenomena serupa juga terjadi pada BBRI yang berada di level 6,9 kali, serta BMRI yang berada di posisi 6,1 kali dibandingkan rata-rata historis masing-masing.
Saham sektor nonperbankan pun menunjukkan tren yang sama, seperti KLBF yang berada di level 9,6 kali, CPIN di angka 7,8 kali, dan ICBP di posisi 8,7 kali.
Alrich berpendapat bahwa kondisi valuasi murah ini bukan hanya disebabkan oleh penurunan harga saham semata, melainkan kombinasi dari berbagai faktor eksternal.
Investor saat ini masih dihadapkan pada ketidakpastian kebijakan suku bunga global, tensi geopolitik, hingga arus keluar modal asing atau foreign outflow.
Faktor domestik seperti ketidakpastian kebijakan pemerintah dan ekspektasi pertumbuhan laba emiten yang lebih moderat turut meningkatkan risk premium di mata para investor.
Akibatnya, pasar belum sepenuhnya percaya diri untuk melakukan akumulasi meskipun fundamental perusahaan besar dinilai masih cukup solid.
Meski demikian, sektor perbankan seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI tetap dianggap menawarkan peluang menarik karena kualitas aset yang terjaga serta profitabilitas yang terjaga tinggi.
Peluang serupa juga terlihat pada sektor consumer staples, poultry, dan telekomunikasi seperti TLKM.
Sebaliknya, beberapa saham seperti MAPI dan ITMG terpantau sudah tidak lagi murah karena diperdagangkan di atas rata-rata PER historisnya.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menyarankan investor untuk menggunakan pendekatan komprehensif dalam menentukan portofolio.
Elandry menekankan bahwa metrik seperti EV/EBITDA, pertumbuhan laba, dan free cash flow memberikan gambaran valuasi yang lebih akurat daripada sekadar mengandalkan PER.
Dirinya menetapkan target harga untuk beberapa saham unggulan, yakni BBCA di level Rp 9.000, BBRI Rp 4.800, BMRI Rp 5.800, TLKM Rp 3.300, dan ASII Rp 5.800 per saham.





















