Jakarta – PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatatkan kerugian bersih yang signifikan sepanjang tahun 2025. Angka kerugian mencapai US$319,39 juta atau setara dengan Rp5,42 triliun (dengan asumsi kurs Rp17 ribu per dolar AS).
Kerugian ini melonjak drastis, sekitar 4,5 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada 2024, Garuda Indonesia mencatatkan kerugian sebesar US$69,77 juta atau sekitar Rp1,18 triliun.
Menurut laporan keuangan yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia (BEI), pembengkakan kerugian ini disebabkan oleh penurunan pendapatan perusahaan. Pendapatan Garuda Indonesia merosot 5,8 persen, dari US$3,41 miliar (Rp57,96 triliun) pada 2024 menjadi US$3,21 miliar (Rp54,57 triliun) pada 2025.
Pendapatan terbesar perusahaan pada tahun lalu berasal dari penerbangan berjadwal, yaitu sebesar US$2,14 miliar (Rp36,68 triliun).
Sementara itu, penerbangan tidak berjadwal menyumbang US$340,87 juta (Rp5,79 triliun). Sisanya berasal dari pendapatan lain-lain sebesar US$361,05 (Rp6,13 triliun).
Di sisi lain, Garuda Indonesia berhasil menekan beban usaha meskipun hanya sedikit. Beban usaha turun dari US$3,11 miliar (Rp52,85 triliun) menjadi US$3,1 miliar (Rp52,69 triliun).
Beban operasional penerbangan menjadi penyumbang terbesar beban usaha, mencapai US$1,54 miliar (Rp26,18 triliun).
Beban pemeliharaan dan perbaikan menyusul dengan angka US$661,36 juta (Rp11,24 triliun). Beban kebandaraan dan pelayanan penumpang masing-masing menyumbang US$249,14 juta dan US$216,35 juta.
Dari sisi aset, nilai aset perusahaan pada tahun lalu mencapai US$7,43 miliar (Rp126,33 triliun). Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$6,62 miliar (Rp112,53 triliun).
Total liabilitas Garuda Indonesia per akhir Desember 2025 tercatat sebesar US$7,33 miliar (Rp124,61 triliun). Sementara itu, total ekuitas mencapai US$91,91 juta (Rp1,56 triliun).




















