Jakarta – CEO Inspira, Adrian Maulana, mengungkapkan strategi penghematan pengeluaran bulanan di tengah ancaman krisis energi global akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Salah satu langkah utamanya adalah beralih menggunakan transportasi umum.
Adrian menyebutkan, ia mampu menghemat biaya transportasi hingga Rp1,8 juta per bulan. Sebelumnya, saat menggunakan kendaraan pribadi untuk menempuh jarak sekitar 60 km pulang-pergi, ia menghabiskan dana sekitar Rp3 juta per bulan hanya untuk bahan bakar minyak (BBM), belum termasuk biaya tol.
“Kalau pakai transportasi umum, seperti KRL, biayanya hanya Rp50 ribu sampai Rp60 ribu per hari. Jika dikalikan 20 hari kerja, totalnya hanya Rp1,2 juta. Jadi, ada selisih penghematan Rp1,8 juta,” ujar Adrian.
Selain sektor transportasi, Adrian juga menerapkan efisiensi pada pengeluaran dapur, khususnya penggunaan gas LPG. Ia mengubah pola memasak yang semula dilakukan setiap hari menjadi tiga hari sekali atau seminggu sekali dengan menyimpan makanan di dalam freezer.
Strategi ini diproyeksikan dapat menekan penggunaan LPG sebesar 10 hingga 20 persen setiap bulannya, atau setara dengan penghematan Rp100 ribu hingga Rp300 ribu.
Dengan mengombinasikan penghematan dari biaya transportasi dan kebutuhan dapur, Adrian memperkirakan total penghematan yang bisa dicapai mencapai Rp2 juta per bulan. Langkah ini dinilai sebagai upaya efektif untuk menyiasati kondisi ekonomi di tengah ketidakpastian energi global.Jakarta – CEO Inspira, Adrian Maulana, mengungkapkan strategi penghematan pengeluaran bulanan dengan beralih menggunakan transportasi umum. Langkah ini ia ambil di tengah kekhawatiran akan krisis energi akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Adrian menjelaskan, ia mampu menghemat biaya transportasi hingga Rp1,8 juta per bulan. Sebelumnya, saat masih menggunakan kendaraan pribadi untuk menempuh jarak sekitar 60 km pulang-pergi, ia menghabiskan dana sekitar Rp3 juta hanya untuk bahan bakar minyak (BBM), belum termasuk biaya tol.
“Kalau saya waktu itu ngantor pulang-pergi kurang lebih 60 km. Biar gampang Rp100 ribu untuk BBM sehari, berarti kalau 20 hari kerja, kita habis Rp3 juta hanya buat bensin, belum termasuk tol,” ujar Adrian.
Dengan beralih ke transportasi umum, seperti KRL, Adrian hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per hari. Dalam 20 hari kerja, total pengeluarannya hanya mencapai Rp1,2 juta.
“Tadi Rp3 juta dikurangi Rp1,2 juta, saya punya sisa Rp1,8 juta. Itu baru dari BBM saja,” tambahnya.
Selain efisiensi biaya transportasi, Adrian juga menerapkan penghematan pada kebutuhan rumah tangga, khususnya penggunaan gas LPG. Ia kini lebih selektif dalam mengatur jadwal memasak untuk menekan pengeluaran dapur.





















