Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah. Pada Selasa (14/4) pukul 10.40 WIB, mata uang Garuda berada di level Rp17.142 per dolar AS, melemah 37 poin atau 0,22 persen dari posisi pembukaan.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengonfirmasi bahwa angka tersebut merupakan level terendah sepanjang sejarah. Sebelumnya, rekor penutupan terendah rupiah berada di level Rp17.090 per dolar AS.
Lukman menilai, pelemahan rupiah kali ini tidak lagi dipicu oleh faktor geopolitik global. Hal ini terlihat dari penguatan mata uang regional Asia dan mata uang utama dunia lainnya terhadap dolar AS di tengah penurunan harga minyak dunia.
“Secara mengejutkan, rupiah malah melemah cukup besar. Hal ini menggarisbawahi sentimen domestik yang masih sangat lemah,” ujar Lukman.
Ia menyebutkan, kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi domestik menjadi pendorong utama pelemahan rupiah. Faktor-faktor tersebut meliputi defisit anggaran yang melebar, penurunan outlook pertumbuhan ekonomi, cadangan devisa yang terus menyusut, hingga surplus perdagangan yang semakin menipis.
Di sisi lain, Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menyoroti dampak kenaikan harga minyak mentah dunia yang kembali menembus US$100 per barel. Menurutnya, lonjakan harga minyak meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor.
“Pemerintah membutuhkan dana besar untuk mengimpor minyak sekitar 800-900 ribu barel per hari. Kebutuhan dolar yang besar inilah yang menekan rupiah,” jelas Ibrahim.
Ibrahim memprediksi tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut sepanjang April. Nilai tukar rupiah diperkirakan berpotensi melemah hingga menyentuh level Rp17.400 per dolar AS akibat ketidakpastian ekonomi dan konflik global.Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah. Pada Selasa (14/4) pukul 10.40 WIB, mata uang Garuda berada di level Rp17.142 per dolar AS, melemah 37 poin atau 0,22 persen dari posisi pembukaan.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengonfirmasi bahwa posisi tersebut merupakan titik terendah sepanjang sejarah. Sebelumnya, rekor penutupan terendah rupiah berada di level Rp17.090 per dolar AS.
Lukman menilai, pelemahan rupiah kali ini tidak lagi didominasi oleh faktor geopolitik global. Pasalnya, di saat harga minyak dunia turun, mata uang regional Asia dan mata uang utama dunia justru menguat terhadap dolar AS.
“Secara mengejutkan, rupiah malah melemah cukup besar. Hal ini menggarisbawahi sentimen domestik yang masih sangat lemah,” ujar Lukman.
Ia menyebutkan, kekhawat




















