Jakarta – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperingatkan ancaman penghentian aktivitas produksi di sejumlah sektor industri pada Mei mendatang. Kondisi ini dipicu oleh terhambatnya rantai pasok global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, mengungkapkan bahwa banyak industri kini mulai kesulitan mendapatkan bahan baku impor. Kelangkaan tersebut berpotensi melumpuhkan operasional pabrik dalam beberapa bulan ke depan.
“Kami belum bisa memastikan apakah bulan April atau Mei nanti produksi masih bisa berjalan. Situasi saat ini sangat menantang, contohnya bahan baku plastik yang sudah mulai langka,” ujar Bob dalam Rapat Panja dengan Komisi IX DPR RI, Selasa (14/4).
Bob menjelaskan, kelangkaan bahan baku turunan minyak bumi, seperti nafta, berdampak luas bagi berbagai sektor industri. Sektor makanan dan minuman menjadi salah satu yang paling rentan karena ketergantungan tinggi terhadap kemasan plastik.
“Jika rantai pasok ini tidak kuat, kita bisa celaka. Kita sedang menghadapi situasi ekonomi yang sangat berat,” tegasnya.
Selain kelangkaan, pelaku usaha juga tertekan oleh lonjakan harga bahan baku yang signifikan. Bob menyebut harga plastik bisa melonjak hingga 60-70 persen, yang berisiko memicu kenaikan harga produk di tingkat konsumen.
Meski berada di bawah tekanan biaya produksi yang tinggi, Apindo mengaku berupaya menahan kenaikan harga jual produk. Langkah ini diambil untuk menjaga daya beli masyarakat yang saat ini sedang melemah.
Sebagai strategi bertahan, para pengusaha memilih melakukan efisiensi internal secara ketat. Selain itu, mereka berharap pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan yang lebih fleksibel untuk membantu dunia usaha melewati masa sulit ini.Jakarta – Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) memperingatkan ancaman penghentian aktivitas produksi di sejumlah sektor industri pada Mei mendatang. Kondisi ini dipicu oleh terhambatnya rantai pasok global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, mengungkapkan bahwa pelaku usaha kini mulai kesulitan mendapatkan bahan baku impor. Kelangkaan ini dikhawatirkan akan melumpuhkan operasional pabrik dalam beberapa bulan ke depan.
“Kita tidak tahu apakah April atau Mei kita masih bisa berproduksi atau tidak. Ini situasi yang kita hadapi saat ini. Sebagai contoh, bahan baku plastik sudah langka,” ujar Bob dalam Rapat Panja dengan Komisi IX DPR RI, Jakarta Pusat, Selasa (14/4).
Bob menjelaskan, kelangkaan bahan baku yang berbasis turunan minyak bumi, seperti nafta, mulai dirasakan secara luas. Kondisi ini sangat berisiko bagi keberlangsungan industri, terutama sektor makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan plastik.
“Padahal, industri makanan dan minuman sangat bergantung pada plastik. Jika rantai pasok tidak kuat, kita bisa celaka menghadapi situasi ekonomi yang sangat berat ini,” tegasnya.
Tekanan ini tidak hanya terjadi pada satu sektor, melainkan hampir seluruh industri yang mengandalkan bahan baku impor. Selain kendala pasokan, pelaku usaha saat ini juga tengah menghadapi tantangan lonjakan biaya bahan baku akibat ketidakpastian global.




















