Jakarta – Masyarakat diimbau untuk lebih bijak dalam menggunakan bahan bakar minyak (BBM) guna meredam potensi krisis energi akibat gejolak geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia. Peran aktif masyarakat dinilai krusial untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam menjaga ketahanan energi nasional.
Pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menegaskan bahwa kebijakan pemerintah tidak akan maksimal tanpa dukungan perilaku hemat energi dari masyarakat. Menurutnya, transparansi informasi mengenai kondisi global saat ini penting agar masyarakat memahami jika nantinya terjadi penyesuaian harga BBM.
“Tanpa didukung oleh masyarakat, tujuan penghematan energi tidak akan tercapai,” ujar Fahmy.
Pemerintah saat ini telah memutuskan untuk menahan harga BBM subsidi hingga akhir tahun. Namun, Fahmy mengingatkan bahwa pergerakan harga minyak dunia sangat dinamis dan sulit diprediksi. Jika harga minyak dunia melonjak drastis, misalnya menyentuh US$200 per barel, maka penyesuaian harga menjadi tantangan yang sulit dihindari.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, masyarakat dapat memulai langkah penghematan sederhana. Langkah konkret yang disarankan meliputi penerapan work from home (WFH), mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, hingga beralih ke transportasi publik.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov, menambahkan bahwa perubahan perilaku individu akan memberikan dampak signifikan jika dilakukan secara kolektif. Berdasarkan simulasinya, jika 10 persen dari 10 juta pengguna kendaraan pribadi beralih ke transportasi umum, penghematan BBM bisa mencapai 2 juta liter per hari.
“Perubahan perilaku itu kelihatannya kecil per orang, tetapi secara agregat nasional sangat signifikan,” jelas Abra.
Di sisi lain, pemerintah terus berupaya menjaga pasokan energi melalui optimalisasi produksi dalam negeri dan diversifikasi impor. Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Hendra Gunawan, menyatakan bahwa pemerintah telah memperluas sumber pasokan energi ke luar kawasan Timur Tengah, seperti Amerika Serikat, Afrika, serta Asia Timur dan Tengah.
Selain itu, pemerintah menginstruksikan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk memprioritaskan produksi minyak mentah bagi kebutuhan domestik. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan eksternal di tengah ketidakpastian global.
Meski Indonesia masih memiliki produksi minyak domestik sekitar 600 ribu barel per hari, kebutuhan nasional yang mencapai 1,6 juta barel per hari menuntut efisiensi di semua lini. Baik Fahmy maupun Abra sepakat bahwa langkah pemerintah saat ini sudah berada di jalur yang tepat, namun tetap memerlukan sinergi dari masyarakat untuk menjaga stabilitas energi nasional.
Jakarta – Peran aktif masyarakat dalam menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) menjadi kunci krusial untuk meredam potensi krisis energi di tengah ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia. Meski pemerintah telah memutuskan menahan harga BBM subsidi hingga akhir tahun, kesadaran kolektif masyarakat tetap dibutuhkan untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menegaskan bahwa kebijakan pemerintah tidak akan maksimal tanpa dukungan perilaku hemat energi dari masyarakat. Menurutnya, langkah sederhana seperti menerapkan work from home (WFH), mengurangi mobilitas dengan kendaraan pribadi, hingga beralih ke transportasi umum memiliki dampak signifikan jika dilakukan secara masif.
“Rakyat bisa ikut WFH, mengurangi mobilitas, menggunakan transportasi umum, atau bahkan bersepeda. Itu langkah sederhana, tapi berdampak pada penghematan konsumsi BBM,” ujar Fahmy.
Senada dengan hal tersebut, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov, menyebut perubahan perilaku individu secara agregat akan memberikan kontribusi besar. Berdasarkan simulasinya, jika 10 persen dari 10 juta pengguna kendaraan pribadi beralih ke transportasi umum, penghematan BBM bisa mencapai 2 juta liter per hari.
Bahkan, jika kebijakan WFH diterapkan secara terukur oleh 5 juta pekerja dengan asumsi penghematan 5 liter per hari, potensi penghematan nasional bisa mencapai 25 juta liter per hari atau sekitar 16,1 persen dari total konsumsi nasional.
Di sisi lain, pemerintah terus berupaya menjaga pasokan energi melalui diversifikasi impor dan optimalisasi produksi domestik. Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Hendra Gunawan, menyatakan bahwa pemerintah telah memperluas sumber pasokan energi ke luar kawasan Timur Tengah, seperti Amerika Serikat, Afrika, serta Asia Timur dan Tengah.
Selain itu, pemerintah mewajibkan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk memprioritaskan minyak mentah hasil produksi dalam negeri guna memenuhi kebutuhan domestik. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan eksternal di tengah gejolak global.
Para pakar menilai langkah pemerintah saat ini sudah berada di jalur yang tepat dalam menjaga stabilitas harga. Namun, reformasi struktural pada penyaluran subsidi energi dinilai mendesak untuk dilakukan agar lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
Momentum krisis ini juga diharapkan menjadi pendorong bagi pemerintah untuk mempercepat transisi energi nasional, termasuk pengembangan energi baru terbarukan guna mengurangi ketergantungan jangka panjang terhadap energi fosil.
Jakarta – Perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi bahan bakar minyak (BBM) menjadi kunci krusial dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia. Partisipasi aktif warga dinilai mampu meredam potensi krisis energi yang saat ini mengancam stabilitas global.
Pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menegaskan bahwa kebijakan pemerintah saja tidak cukup untuk menghemat energi. Masyarakat perlu terlibat langsung melalui langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
“Tanpa didukung oleh masyarakat, tujuan penghematan energi tidak akan tercapai,” ujar Fahmy.
Langkah konkret yang disarankan meliputi penerapan kembali sistem kerja dari rumah (WFH), pengurangan mobilitas dengan kendaraan pribadi, hingga beralih menggunakan transportasi publik. Menurut Fahmy, jika kebijakan WFH berjalan efektif, konsumsi BBM nasional dapat ditekan hingga 10 persen.
Senada dengan hal tersebut, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov, menyebut perubahan perilaku individu akan memberikan dampak signifikan jika dilakukan secara kolektif.
Berdasarkan simulasi, jika 10 persen dari 10 juta pengguna kendaraan pribadi beralih ke transportasi umum, penghematan BBM bisa mencapai 2 juta liter per hari. Angka tersebut akan melonjak drastis jika peralihan mencapai 30 persen.
“Perubahan perilaku itu kelihatannya kecil per orang, tetapi secara agregat nasional sangat signifikan,” jelas Abra.
Di sisi lain, pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas pasokan. Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Hendra Gunawan, menyatakan bahwa pemerintah telah melakukan diversifikasi sumber pasokan energi ke luar kawasan Timur Tengah, seperti Amerika Serikat, Afrika, serta Asia Timur dan Tengah.
Selain itu, pemerintah mengoptimalkan produksi minyak mentah domestik dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Indonesia saat ini memiliki produksi minyak sekitar 600 ribu barel per hari yang membantu mengurangi ketergantungan penuh pada impor.
Meski langkah pemerintah dinilai sudah berada di jalur yang tepat dalam menjaga stabilitas harga BBM subsidi hingga akhir tahun, para pakar mendorong adanya reformasi struktural. Hal ini terutama ditujukan pada penyaluran subsidi energi agar lebih tepat sasaran dan berkelanjutan.
Fahmy menambahkan, situasi krisis saat ini harus menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi baru terbarukan guna mengurangi ketergantungan jangka panjang terhadap energi fosil.
Jakarta – Peran aktif masyarakat dalam menghemat penggunaan bahan bakar minyak (BBM) menjadi kunci krusial untuk meredam potensi krisis energi di tengah ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia. Langkah kolektif ini dinilai mampu menekan konsumsi energi nasional secara signifikan.
Pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menegaskan bahwa kebijakan pemerintah saja tidak cukup untuk menjaga ketahanan energi. Masyarakat perlu mulai menerapkan pola hidup hemat, seperti mengurangi mobilitas, beralih ke transportasi publik, hingga menerapkan sistem kerja dari rumah atau work from home (WFH).
“Langkah sederhana seperti menggunakan transportasi umum atau bersepeda memiliki dampak nyata pada penghematan konsumsi BBM. Jika WFH berjalan efektif, potensi penghematannya bisa mencapai 10 persen,” ujar Fahmy.
Senada dengan hal tersebut, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov, menyebut perubahan perilaku individu akan memberikan dampak besar jika dilakukan secara masif. Berdasarkan simulasinya, jika 10 persen pengguna kendaraan pribadi beralih ke transportasi umum, penghematan BBM bisa mencapai 2 juta liter per hari.
“Jika peralihan mencapai 20 hingga 30 persen, potensi penghematan bisa menyentuh angka 3,9 persen dari total konsumsi nasional. Secara agregat, perubahan perilaku ini sangat signifikan,” jelas Abra.
Di sisi lain, pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas pasokan. Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Hendra Gunawan, menyatakan pemerintah telah melakukan diversifikasi sumber pasokan energi ke luar kawasan Timur Tengah, seperti Amerika Serikat, Afrika, serta Asia Timur dan Tengah.
Selain itu, pemerintah mengoptimalkan produksi minyak mentah domestik dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada impor di tengah fluktuasi harga minyak global yang sulit diprediksi.
Meski pemerintah telah memutuskan menahan harga BBM subsidi hingga akhir tahun, para pakar menilai reformasi struktural tetap diperlukan. Penataan ulang subsidi agar lebih tepat sasaran serta percepatan transisi ke energi baru terbarukan menjadi langkah strategis yang harus segera dilakukan untuk menghadapi tekanan energi jangka panjang.
Jakarta – Perubahan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi bahan bakar minyak (BBM) menjadi kunci krusial untuk meredam potensi krisis energi di tengah ketidakpastian geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia. Selain kebijakan pemerintah, partisipasi aktif masyarakat dinilai sangat menentukan ketahanan energi nasional.
Pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menegaskan bahwa penghematan energi harus dimulai dari langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyarankan masyarakat untuk mulai membiasakan diri dengan skema kerja dari rumah (WFH), mengurangi mobilitas dengan kendaraan pribadi, hingga beralih menggunakan transportasi publik.
“Rakyat bisa ikut work from home, mengurangi mobilitas, menggunakan transportasi umum, atau bahkan bersepeda. Itu langkah sederhana, tapi berdampak pada penghematan konsumsi BBM,” ujar Fahmy.
Senada dengan hal tersebut, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov, menyebut langkah kolektif masyarakat akan memberikan dampak signifikan. Menurut simulasinya, jika 10 persen dari 10 juta pengguna kendaraan pribadi beralih ke transportasi umum, penghematan BBM bisa mencapai 2 juta liter per hari.
Bahkan, jika kebijakan WFH diterapkan secara masif oleh 5 juta pekerja dengan asumsi penghematan 5 liter per hari, potensi penghematan nasional bisa mencapai 25 juta liter per hari atau sekitar 16,1 persen dari total konsumsi nasional.
Di sisi lain, pemerintah saat ini telah memutuskan untuk menahan harga BBM subsidi hingga akhir tahun. Namun, para ahli mengingatkan bahwa pergerakan harga minyak dunia yang sulit diprediksi menuntut kesiapan masyarakat terhadap kemungkinan penyesuaian harga di masa depan.
Terkait pasokan, Indonesia dinilai masih memiliki ketahanan yang cukup baik karena didukung produksi minyak domestik sekitar 600 ribu barel per hari. Pemerintah melalui Kementerian ESDM juga terus melakukan diversifikasi sumber impor energi dari berbagai kawasan, seperti Amerika Serikat, Afrika, hingga Asia Timur dan Tengah, guna mengurangi ketergantungan pada jalur Selat Hormuz yang sedang rawan konflik.
Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Hendra Gunawan, menambahkan bahwa pemerintah kini mengoptimalkan produksi dalam negeri dengan mengalihkan sebagian hasil produksi kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk kebutuhan domestik.
Meski langkah pemerintah dinilai sudah berada di jalur yang tepat, para pakar mendorong adanya reformasi struktural, terutama dalam penyaluran subsidi energi agar lebih tepat sasaran. Krisis global ini juga diharapkan menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat transisi menuju energi baru terbarukan yang lebih berkelanjutan.Jakarta – Masyarakat diimbau untuk bijak dalam menggunakan bahan bakar minyak (BBM) sebagai langkah krusial meredam potensi krisis energi akibat gejolak geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia. Peran aktif masyarakat dinilai menjadi kunci pendukung kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas energi nasional.
Pakar ekonomi energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menegaskan bahwa kebijakan pemerintah tidak akan efektif tanpa dukungan perilaku hemat energi dari masyarakat. Menurutnya, transparansi informasi mengenai kondisi global saat ini penting agar masyarakat memahami jika nantinya terjadi penyesuaian harga BBM.
Meski pemerintah saat ini memutuskan menahan harga BBM subsidi hingga akhir tahun, Fahmy mengingatkan bahwa pergerakan harga minyak dunia sangat sulit diprediksi. Jika harga minyak dunia melonjak hingga US$200 per barel, pemerintah akan menghadapi tantangan berat untuk mempertahankan harga saat ini.
Langkah penghematan energi dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menerapkan kembali sistem kerja dari rumah (WFH), mengurangi mobilitas dengan kendaraan pribadi, hingga beralih ke transportasi publik.
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abra Talattov, menambahkan bahwa perubahan perilaku individu akan memberikan dampak signifikan jika dilakukan secara kolektif. Berdasarkan simulasinya, jika 10 persen dari 10 juta pengguna kendaraan pribadi beralih ke transportasi umum, penghematan BBM bisa mencapai 2 juta liter per hari.
Bahkan, jika kebijakan WFH diterapkan secara terukur oleh 5 juta pekerja dengan asumsi penghematan 5 liter per hari, potensi penghematan nasional bisa mencapai 25 juta liter per hari atau sekitar 16,1 persen dari total konsumsi nasional.
Di sisi lain, pemerintah terus berupaya menjaga ketahanan energi dengan mengoptimalkan produksi minyak domestik yang mencapai sekitar 600 ribu barel per hari. Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Hendra Gunawan, menyatakan pemerintah telah melakukan diversifikasi sumber pasokan energi ke luar kawasan Timur Tengah, seperti Amerika Serikat, Afrika, serta Asia Timur dan Tengah.
Selain itu, pemerintah juga menginstruksikan optimalisasi produksi dari Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk diprioritaskan bagi kebutuhan domestik. Langkah ini diambil untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor di tengah ketidakpastian pasokan global.




















