Jakarta – Warga RW 09, Cakung Barat, Jakarta Timur, mulai mengubah cara pandang mereka terhadap limbah rumah tangga melalui gerakan pemilahan sampah yang terstruktur. Inisiatif yang didukung oleh Yayasan Wings Peduli ini kini menjadi ujung tombak penanganan sampah dari hulu, mengingat pemerintah bakal memperketat aturan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang pada 2026 mendatang.
Ketua RW 09, Dam Suhanda, menegaskan bahwa pemilahan sampah kini bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan. Mulai Agustus 2026, TPST Bantar Gebang hanya akan menerima sampah residu yang tidak bisa didaur ulang. Untuk itu, pihaknya mendorong warga membiasakan diri memilah sampah dari rumah melalui bank sampah yang dijalankan secara kolaboratif.
Mawarni, salah seorang warga yang bertugas sebagai juru timbang, menuturkan bahwa kesadaran warga tumbuh melalui pelatihan dan edukasi. Saat ini, terdapat sekitar 65 nasabah aktif yang rutin menyetorkan sampah plastik serta kardus dua kali dalam seminggu. Meski nilai ekonomi yang didapat dari tabungan sampah tidak besar, kebiasaan baru ini terbukti efektif mengurangi beban sampah yang sebelumnya langsung dibuang ke tempat pembuangan.
Data dari periode 2024–2025 menunjukkan bahwa program ini telah berhasil mengelola sekitar 6,4 ton sampah anorganik. Keberhasilan skala mikro ini menjadi krusial di tengah kondisi darurat sampah nasional. Berdasarkan keputusan Menteri Lingkungan Hidup pada Oktober 2025, sebanyak 336 dari 514 kabupaten dan kota di Indonesia kini berstatus darurat sampah akibat sistem pengelolaan yang tertinggal.
Tingginya volume timbulan sampah nasional yang mencapai 141 ribu ton per hari menuntut perubahan pendekatan. Selama ini, ketergantungan pada sistem di hilir seperti penggunaan TPST belum mampu mengatasi persoalan secara menyeluruh. Terlebih, TPST Bantar Gebang saat ini berada dalam tekanan berat dan tercatat sebagai salah satu penghasil emisi gas metana terbesar di dunia.
Lead of Waste to Energy Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Fadli Rahman, menyatakan bahwa teknologi di hilir hanya mampu menyelesaikan sekitar 30 persen persoalan sampah. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat untuk melakukan pemilahan di tingkat rumah tangga menjadi kunci utama agar masalah sampah tidak terus menyebar dan semakin sulit ditanggulangi.
Perwakilan Wings Peduli, Sheila Kansil, menambahkan bahwa kolaborasi ini akan terus berlanjut untuk memastikan gerakan pemilahan sampah menjadi budaya yang berkelanjutan. Meskipun tantangan di lapangan masih besar, langkah kecil dari tingkat rumah tangga seperti yang dilakukan warga Cakung Barat diharapkan mampu menjadi fondasi kuat dalam mengurangi beban sampah hingga ke skala nasional.
























