Amerika Serikat dan Iran Segera Capai Kesepakatan Akhiri Ketegangan

persen

Washington – Amerika Serikat dan Iran dikabarkan semakin dekat dengan kesepakatan untuk mengakhiri ketegangan militer yang sempat memanas. Perkembangan ini muncul setelah Gedung Putih menerima respons positif dari pihak mediator Pakistan pada Selasa (5/5).

Dua pejabat pemerintah Amerika Serikat mengungkapkan bahwa pihak Iran saat ini tengah mempertimbangkan tawaran kompromi tersebut. Meski demikian, para pengamat tetap bersikap skeptis mengingat sejarah negosiasi kedua negara yang kerap menemui jalan buntu di saat-saat terakhir.

Upaya untuk menghidupkan kembali dialog antara Washington dan Teheran kembali menguat belakangan ini. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan telah menyederhanakan poin-poin perundingan guna memuluskan jalan bagi Iran untuk kembali ke meja diskusi.

Para negosiator dikabarkan telah menyusun rancangan dokumen satu halaman yang berisi cetak biru kesepakatan. Rencana tersebut mencakup penghentian perang secara menyeluruh serta dimulainya masa negosiasi intensif selama 30 hari ke depan.

Dalam kerangka negosiasi ini, kedua negara rencananya akan membahas isu krusial yang selama ini menjadi penghambat, seperti pencairan aset Iran yang tertahan, program nuklir, hingga jaminan keamanan di wilayah Selat Hormuz.

Terkait isu nuklir, rancangan tersebut mencakup opsi moratorium pengayaan uranium dengan durasi lebih dari 10 tahun. Tawaran ini merupakan pelunakan posisi Amerika Serikat yang sebelumnya menuntut moratorium hingga 20 tahun.

Langkah diplomatik ini sejalan dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, yang mengumumkan berakhirnya Operasi Epic Fury. Menurut Rubio, operasi militer tersebut telah mencapai target strategis yang ditetapkan Washington.

Kami tidak menginginkan situasi tambahan terjadi. Kami lebih memilih jalur damai. Apa yang diinginkan presiden adalah sebuah kesepakatan, ujar Rubio.

Meski fokus utama saat ini adalah menempuh jalan diplomasi, tantangan internal di Iran tetap menjadi perhatian. Sumber menyebut bahwa tekanan militer Amerika Serikat yang terlalu intens berisiko memperkuat pengaruh kelompok garis keras di Iran. Di sisi lain, Presiden Trump juga menegaskan tidak akan ragu untuk kembali mengambil tindakan tegas jika negosiasi diplomasi kembali mengalami kegagalan.

Rekomendasi