Aturan Free Float 15% Dongkrak Likuiditas, Buka Peluang Akumulasi Saham

persen

Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mendorong implementasi aturan porsi saham yang beredar di publik atau free float minimal 15%. Kebijakan ini diproyeksikan mampu meningkatkan likuiditas pasar saham domestik secara signifikan dalam jangka panjang.

Hingga saat ini, data BEI menunjukkan sebanyak 560 emiten atau sekitar 59% dari total 965 perusahaan tercatat telah mematuhi ketentuan tersebut. Meski demikian, sejumlah emiten berkapitalisasi besar seperti BREN, DNET, CUAN, CDIA, BRIS, BNLI, dan ADMR diketahui masih berada di bawah ambang batas minimal.

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menyatakan bahwa penambahan porsi saham publik akan memperluas ruang transaksi bagi investor. Langkah ini dinilai sejalan dengan kebutuhan pasar akan transparansi dan daya tarik investasi yang lebih kompetitif di mata investor global serta penyedia indeks internasional seperti MSCI.

“Pemenuhan free float minimal 15% berdampak positif terhadap likuiditas pasar dalam jangka panjang karena jumlah saham yang beredar di publik menjadi lebih besar,” ujar Ekky, Jumat (8/5/2026).

Di sisi lain, Ekky mengingatkan adanya potensi tekanan pada harga saham tertentu dalam jangka pendek. Hal ini terjadi karena pasar cenderung mengantisipasi adanya tambahan pasokan saham dari pemegang saham pengendali.

Untuk memenuhi ketentuan tersebut, emiten memiliki beberapa opsi strategis. Divestasi bertahap oleh pemegang saham pengendali dianggap sebagai langkah paling realistis, mengingat BEI juga menyediakan masa transisi. Selain itu, emiten dapat menempuh mekanisme rights issue guna memenuhi syarat sekaligus memperkuat permodalan untuk kebutuhan ekspansi.

Bagi investor, Ekky menyarankan untuk lebih selektif dalam mencermati saham-saham yang terdampak kebijakan ini. Investor perlu mewaspadai saham dengan valuasi tinggi yang rentan terhadap tambahan suplai di pasar.

Namun, koreksi harga yang disebabkan oleh sentimen teknis ini juga dapat dipandang sebagai peluang bagi investor. “Jika ada saham berfundamental kuat yang terkoreksi karena sentimen teknis terkait free float, hal tersebut bisa menjadi peluang untuk akumulasi bertahap bagi investor jangka menengah hingga panjang,” tuturnya.

Rekomendasi