Jakarta – Gejolak geopolitik global yang kian memanas memicu lonjakan harga komoditas energi secara serentak dalam sepekan terakhir. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang mengancam jalur pasokan di Selat Hormuz menjadi katalis utama di balik fenomena ini.
Data Trading Economics per Jumat (15/5/2026) menunjukkan minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni 2026 menembus level US$ 105,42 per barel. Angka ini mencatatkan penguatan sebesar 10,48 persen dalam sepekan terakhir.
Tren serupa terjadi pada minyak mentah jenis Brent untuk kontrak Juli 2026 yang ditutup di harga US$ 109,3 per barel, naik 7,8 persen secara mingguan. Tidak ketinggalan, harga gas alam turut melambung 7,3 persen ke posisi US$ 2,96 per mmbtu.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menjelaskan bahwa kenaikan tajam ini merupakan manifestasi dari premi risiko pasar terhadap potensi disrupsi suplai global. Menurutnya, pasar merespons ancaman penutupan jalur distribusi di Selat Hormuz yang menciptakan guncangan pasokan (supply shock).
Sutopo memperingatkan bahwa tren kenaikan harga energi ini berisiko memicu percepatan inflasi global. Kondisi ini berpotensi menekan bank sentral dunia untuk mempertahankan atau bahkan memperketat kebijakan moneter mereka guna meredam laju inflasi.
Ke depan, pergerakan harga minyak dan gas masih akan sangat bergantung pada dinamika konflik di Timur Tengah serta perkembangan negosiasi dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Jika tren kenaikan berlanjut, harga minyak WTI diperkirakan berpeluang menguji level resistensi di US$ 115 per barel, sementara Brent berpotensi menyentuh angka US$ 122 per barel.
Untuk komoditas gas alam, Sutopo memproyeksikan harga dapat bergerak menuju level US$ 3,5 per mmbtu, terutama jika permintaan musiman pada semester II mendatang meningkat.
Menghadapi volatilitas pasar tersebut, investor disarankan untuk tetap menerapkan manajemen risiko yang ketat. Sutopo menekankan pentingnya disiplin pada rasio risiko dan imbal hasil, serta menghindari keputusan investasi yang hanya didasarkan pada sentimen perang semata.
Investor juga diimbau untuk memperhatikan indikator teknikal seperti pergerakan exponential moving average (EMA) jangka panjang sebagai sinyal arah harga. Selain itu, langkah diversifikasi pada aset yang memiliki korelasi negatif terhadap kenaikan harga energi dinilai krusial untuk menjaga stabilitas portofolio.




















