Indonesia dan Belarus Perkuat Kerja Sama Ekonomi Strategis

persen

Jakarta – Indonesia dan Belarus sepakat mempererat hubungan bilateral melalui penguatan kerja sama industri, ketahanan pangan, hingga teknologi manufaktur. Komitmen ini dipertegas dalam Sidang Komisi Bersama (SKB) yang memosisikan Belarus sebagai mitra strategis dalam mendorong diversifikasi pasar bagi produk nasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, forum tersebut menjadi kerangka kerja utama untuk memaksimalkan potensi ekonomi kedua negara. Airlangga juga mengapresiasi dukungan Belarus dalam finalisasi perjanjian perdagangan bebas Indonesia–EAEU FTA yang dijadwalkan ditandatangani pada Desember 2025.

Implementasi perjanjian tersebut diharapkan mampu memicu lonjakan investasi dan perdagangan. Saat ini, nilai perdagangan kedua negara telah menunjukkan tren positif dengan mencatatkan angka sekitar US$ 221 juta, atau tumbuh 72,6 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Deputi Perdana Menteri Belarus, Viktor Karankevich, menegaskan kesiapan negaranya untuk menjalin kolaborasi lebih dalam, khususnya melalui pembentukan Dewan Bisnis Indonesia–Belarus. Langkah ini dinilai krusial untuk memfasilitasi pelaku usaha dalam mengeksplorasi potensi perakitan mesin dan alat berat di Indonesia.

Sebagai bentuk nyata dari kemitraan strategis, kedua negara kini menyusun Roadmap of Developing Key Areas of Cooperation between Belarus and Indonesia for 2026–2030. Dokumen ini akan menjadi acuan terukur dalam memperkuat kolaborasi di sektor manufaktur, pertanian, kesehatan, hingga pendidikan.

Pemerintah Indonesia mendorong skema joint venture dan transfer teknologi, terutama pada sektor alat berat, kendaraan komersial, dan pupuk. Selain itu, Indonesia berpeluang memperluas ekspor komoditas unggulan seperti karet, kakao, kopi, serta produk perikanan ke pasar Belarus dan kawasan EAEU.

Dalam waktu dekat, rencana kunjungan Presiden Belarus ke Indonesia juga akan dimeriahkan dengan penyelenggaraan Forum Bisnis Indonesia–Belarus. Pertemuan ini diharapkan menjadi momentum bagi para pemangku kepentingan untuk melihat langsung kapabilitas industri dan teknologi di kedua negara secara lebih mendalam.

Rekomendasi