Pilihan Instrumen Investasi Aman Saat Pasar Saham dan Rupiah Bergejolak

persen

Jakarta – Investor perlu segera melakukan penyesuaian strategi investasi di tengah tekanan hebat yang mendera pasar keuangan domestik. Perpaduan antara koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pelemahan nilai tukar rupiah menuntut pelaku pasar untuk lebih fokus pada kualitas aset dan likuiditas portofolio.

Hingga Rabu (13/5/2026), IHSG tercatat merosot 23,15% ke level 6.723,32. Penurunan ini dipicu oleh sentimen eksternal, termasuk dampak dari rebalancing MSCI dan FTSE Russell. Kondisi tersebut diperparah dengan kinerja mata uang rupiah yang terjerembap ke level Rp 17.596 per dolar AS pada Jumat (15/5/2026).

CEO dan Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, menilai penurunan IHSG saat ini justru menjadi momentum bagi investor jangka panjang untuk mengakumulasi saham berkualitas. Menurutnya, pelaku pasar dapat melirik saham blue chip atau saham yang dinilai undervalued, memiliki fundamental kokoh, utang rendah, serta rutin membagikan dividen.

Strategi pembelian secara bertahap atau dollar-cost averaging sangat disarankan untuk meminimalisir risiko volatilitas. Sektor konsumer primer, perbankan besar, dan komoditas tertentu dinilai masih memiliki resiliensi lebih baik di tengah tekanan ekonomi.

Untuk menjaga kestabilan aset dari pelemahan mata uang, investor disarankan melirik instrumen alternatif sebagai lindung nilai. Emas menjadi salah satu pilihan menarik dengan potensi imbal hasil historis di kisaran 8% hingga 11% per tahun. Selain itu, Surat Berharga Negara (SBN) atau reksadana pendapatan tetap juga menawarkan daya tarik melalui kupon yang kompetitif, yakni sekitar 6,5% hingga 7,5% per tahun.

Sementara itu, bagi investor yang memprioritaskan likuiditas untuk kebutuhan jangka pendek, instrumen pasar uang seperti deposito atau reksadana pasar uang tetap layak dipertimbangkan dengan estimasi imbal hasil 3% hingga 5% per tahun.

Melvin menyarankan pembagian porsi aset yang disesuaikan dengan profil risiko masing-masing. Investor agresif disarankan mengalokasikan 50% portofolio pada saham, 30% pada obligasi, dan 20% pada aset likuid atau emas. Untuk investor moderat dan konservatif, komposisi disarankan lebih condong ke instrumen obligasi hingga mencapai 50%.

Dalam mengambil keputusan, investor diminta untuk tetap objektif dan tidak terpengaruh emosi. Rebalancing portofolio harus didasarkan pada prospek masa depan alih-alih menyesali kinerja masa lalu. Kunci keberhasilan investasi dalam situasi pasar yang fluktuatif terletak pada kedisiplinan serta kemampuan untuk memanfaatkan peluang saat harga aset sedang dalam posisi terdiskon.

Rekomendasi