Jakarta – Harga emas diprediksi akan terus bergerak fluktuatif sepanjang pekan depan akibat tingginya ketidakpastian kondisi global. Saat ini, emas Antam atau Logam Mulia bertengger di level Rp 2.769.000 per gram, sementara harga emas dunia berada di posisi US$ 4.574 per troy ons.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan harga emas berpeluang mengalami koreksi. Jika tren pasar terus melemah, harga emas dunia diperkirakan menyentuh kisaran US$ 4.307 hingga US$ 4.444 per troy ons, dengan harga emas Antam yang mungkin turun Rp 20.000 menjadi Rp 2.749.000 per gram.
Namun, skenario sebaliknya bisa terjadi jika harga komoditas kembali merangkak naik. Emas dunia berpotensi mencapai level US$ 4.639 hingga US$ 4.796 per troy ons, sedangkan emas Antam diprediksi mampu menembus harga Rp 2.880.000 per gram.
Ibrahim menilai tantangan untuk mencapai level harga Rp 2.900.000 per gram cukup berat. Hal ini dipicu oleh ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, serta penutupan Selat Hormuz yang berdampak signifikan pada stabilitas pasar global.
Selain itu, lonjakan inflasi di Amerika Serikat akibat perang memaksa bank sentral global untuk menahan atau bahkan menaikkan suku bunga acuan. Kebijakan ini dinilai akan menekan harga emas agar kembali tergelincir.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi menembus Rp 17.800 per dolar AS turut memengaruhi dinamika pasar logam mulia. Menurut Ibrahim, kondisi pelemahan harga saat ini bisa menjadi momentum yang tepat bagi masyarakat untuk menambah koleksi logam mulia sebagai instrumen investasi.
Sepanjang sepekan terakhir, harga emas dunia sempat mencatatkan volatilitas tinggi dengan menyentuh harga tertinggi di angka US$ 4.767 per troy ons pada Selasa, 12 Mei 2026. Pada hari yang sama, emas Antam juga mencatatkan level tertingginya di angka Rp 2.859.000 per gram, sebelum akhirnya menunjukkan tren penurunan hingga hari ini.




















