Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai pelemahan pasar saham domestik masih sejalan dengan tekanan yang terjadi di mayoritas bursa Asia selama libur panjang akhir pekan di Indonesia.
Pelaksana Tugas Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan koreksi indeks harga saham gabungan atau IHSG dipicu tingginya ketidakpastian global serta tekanan di pasar regional.
“Kalau kita cermati memang ketidakpastian di pasar kita masih cukup tinggi, tetapi kita juga melihat bahwa hari Kamis (14/5) dan Jumat (15/5) pasar kita libur,” ujar Jeffrey di Gedung BEI, Jakarta, Senin (18/5).
Menurut dia, selama pasar Indonesia libur, bursa global khususnya Asia justru mengalami koreksi yang cukup dalam.
“Kalau kita akumulasikan koreksi dua hari di pasar global Asia ditambah sedikit koreksi tambahan hari ini di pasar global, itu sama dengan koreksi yang kita alami hari ini. Jadi, saya rasa masih inline dengan global market,” katanya.
Jeffrey menambahkan, sumber ketidakpastian global saat ini datang dari berbagai arah, mulai dari fluktuasi harga komoditas dan nilai tukar hingga ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Rusia.
Karena itu, ia mengimbau investor tetap tenang dan mengedepankan analisis fundamental di tengah gejolak pasar.
“Investor harus tetap memperhatikan fundamental, menganalisis secara cermat, dan mengatur strategi investasi sesuai dengan profil risiko masing-masing karena kondisi pasar sangat dinamis dan ketidakpastiannya masih cukup tinggi,” ujarnya.
Di tengah tekanan pasar, BEI juga tetap optimistis investor asing akan kembali masuk ke pasar modal Indonesia seiring reformasi pasar modal yang tengah berjalan mulai menunjukkan hasil.
Jeffrey mengatakan reformasi itu ditujukan untuk memperbaiki transparansi dan tata kelola pasar dalam jangka panjang.
“Tentu kita melakukan upaya terbaik agar investor asing akan terus masuk dan untuk jangka panjang tetap stay dan berpartisipasi di pasar kita,” katanya.
Ia mengakui reformasi pasar modal membawa konsekuensi jangka pendek, termasuk potensi keluarnya dana asing dari sejumlah saham yang masuk kategori high shareholding concentration (HSC) serta dikeluarkan dari indeks global seperti MSCI dan FTSE.
Namun, menurut Jeffrey, pasar sudah mengantisipasi kondisi tersebut sejak awal.
“Itu sesuatu yang sudah diantisipasi oleh pasar. Ini adalah konsekuensi jangka pendek yang memang harus diterima. Tetapi ini adalah upaya kita untuk memperbaiki pasar kita untuk jangka panjang,” ujarnya.
Jeffrey optimistis reformasi yang dilakukan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan self-regulatory organization (SRO) bakal meningkatkan kepercayaan investor asing terhadap pasar modal domestik.
“Kita harapkan inflow yang akan jauh lebih besar dari investor asing setelah melihat bahwa pasar Indonesia sudah menjadi pasar yang lebih transparan dengan tata kelola yang lebih baik,” katanya.
Pada perdagangan hari ini, IHSG ditutup melemah 1,85 persen ke level 6.599. Indeks turun 124,07 poin dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Mengutip RTI Infokom, nilai transaksi tercatat Rp20,71 triliun dengan volume perdagangan mencapai 31,99 miliar saham.
Sebanyak 125 saham menguat, 616 saham melemah, dan 79 saham stagnan pada penutupan perdagangan.
Seluruh sektor indeks berada di zona merah, dipimpin sektor transportasi yang anjlok 5,58 persen.






















