BI Rate Naik, Daihatsu Ungkap Dampaknya Terhadap Bunga Kredit Mobil

persen

Depok – PT Astra Daihatsu Motor (ADM) merespons kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 100 basis poin menjadi 5,75 persen yang berpotensi memengaruhi pasar otomotif nasional. Perusahaan menyatakan bahwa penyesuaian bunga kredit kendaraan bermotor tidak akan terjadi secara serentak karena bergantung pada kebijakan internal masing-masing perusahaan pembiayaan atau leasing.

Marketing Director dan Corporate Communication Director ADM, Sri Agung Handayani, menjelaskan bahwa setiap perusahaan pembiayaan memiliki struktur sumber pendanaan yang bervariasi. Oleh karena itu, waktu penyesuaian suku bunga kredit bagi konsumen tidak bisa disamaratakan. Menurutnya, tidak semua perusahaan pembiayaan bergantung sepenuhnya pada pendanaan domestik yang terdampak langsung oleh kebijakan suku bunga Bank Indonesia.

“Lembaga pembiayaan memiliki sumber pendanaan yang berbeda-beda. Mereka memiliki perhitungan bisnis sendiri terkait kapan dan berapa besar penyesuaian yang akan dilakukan. Kami tidak bisa memastikan kapan kenaikan BI Rate ini akan berdampak langsung pada bunga kredit kendaraan,” ujar Sri Agung di Depok, Jawa Barat.

Meskipun demikian, pihak Daihatsu mengakui bahwa kenaikan suku bunga kredit memiliki potensi memengaruhi minat beli masyarakat. Namun, keputusan konsumen dalam membeli kendaraan dinilai tidak hanya terpaku pada besaran suku bunga, melainkan juga pada kemudahan skema pembiayaan yang ditawarkan oleh dealer maupun perusahaan leasing.

Untuk mengantisipasi potensi penurunan daya beli akibat kenaikan biaya bunga, Daihatsu terus mengoptimalkan pilihan masa tenor kredit yang lebih panjang, yakni hingga delapan tahun. Langkah ini ditujukan agar beban cicilan bulanan konsumen tetap terjangkau meskipun terjadi penyesuaian suku bunga di masa depan. Strategi ini menjadi salah satu upaya perusahaan untuk menjaga keberlangsungan penjualan di tengah tantangan ekonomi makro.

Sejauh ini, Daihatsu belum merancang strategi khusus sebagai respons langsung terhadap kenaikan BI Rate. Perusahaan memilih untuk memantau pergerakan pasar dan pengaruh kebijakan tersebut terhadap daya beli konsumen dalam beberapa waktu ke depan.

Di sisi lain, Daihatsu mencatat tren positif pada kinerja penjualan otomotif nasional. Berdasarkan data perusahaan, penjualan wholesales maupun retail mengalami peningkatan sekitar 9 hingga 10 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini didominasi oleh permintaan pada segmen kendaraan menengah ke atas serta kendaraan komersial seperti pikap.

Sementara itu, kontribusi dari segmen Low Cost Green Car (LCGC) terpantau mulai mengalami penurunan volume. Kendati demikian, angka penjualan untuk model LCGC dari Toyota dan Daihatsu secara keseluruhan dinilai masih berada pada level yang terjaga. Kondisi ini memberikan optimisme bagi pelaku industri bahwa pasar masih memiliki ketahanan di tengah fluktuasi kebijakan moneter.

Kenaikan suku bunga acuan memang menjadi perhatian serius bagi industri otomotif, mengingat sekitar 70 hingga 75 persen pembelian kendaraan di Indonesia masih mengandalkan skema kredit. Pelaku industri pembiayaan kini dihadapkan pada tantangan untuk menyeimbangkan antara kenaikan biaya dana (cost of fund) dengan upaya menjaga daya beli masyarakat agar target penjualan tetap dapat tercapai di sepanjang tahun ini.

Rekomendasi