Rupiah Anjlok ke Level Terendah, Pasar Menanti Keputusan RDG BI

persen

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa (19/5). Kurs rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,21% ke level Rp 17.706 per dolar AS, sementara Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat posisi di angka Rp 17.719 per dolar AS.

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menilai pelemahan ini merupakan akumulasi dari sentimen eksternal yang memburuk serta meningkatnya risiko domestik. Kondisi global yang cenderung risk-off akibat ketegangan geopolitik dan tingginya harga minyak dunia membuat dolar AS tetap perkasa.

Dari sisi domestik, pasar mulai mencermati potensi risiko fiskal akibat pelemahan rupiah dan lonjakan harga minyak mentah Indonesia (ICP). Selain itu, investor dinilai masih menunggu respons kebijakan yang lebih solid dari Bank Indonesia (BI).

Menanggapi tekanan tersebut, mayoritas ekonom yang disurvei Reuters memprediksi BI berpotensi menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate pada 20 Mei 2026. Rizal memproyeksikan rupiah pada perdagangan Rabu (20/5) akan bergerak dalam rentang Rp 17.650 hingga Rp 17.800 per dolar AS.

Ia menambahkan, pergerakan rupiah ke depan sangat bergantung pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI. Jika pasar menilai kebijakan yang diambil kurang tegas, rupiah berisiko kembali menguji level Rp 17.800 per dolar AS.

Meski kenaikan suku bunga dapat membantu menopang nilai tukar dalam jangka pendek, Rizal menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah solusi tunggal. Menurutnya, stabilitas rupiah sangat bergantung pada disiplin fiskal pemerintah serta konsistensi bauran kebijakan moneter.

Pasar saat ini juga akan terus memantau pergerakan yield US Treasury, harga minyak, serta arus modal asing di pasar obligasi dan saham domestik sebagai indikator utama arah pergerakan mata uang Garuda.

Rekomendasi