Negara Asia Perketat Kebijakan Ekonomi Hadapi Guncangan Harga Energi

persen

rupiah-melemah-ke-rp17.287-per-dolar-as-dipicu-lonjakan-harga-minyak-dan-konflik-as-iran
Rupiah Melemah ke Rp17.287 per Dolar AS Dipicu Lonjakan Harga Minyak dan Konflik AS-Iran

Jakarta – Sejumlah negara di Asia kini terjebak dalam dilema kebijakan ekonomi yang pelik akibat guncangan pasokan energi global. Pelemahan mata uang yang menyentuh rekor terendah memaksa bank sentral di kawasan ini menempuh langkah drastis, termasuk menaikkan suku bunga secara agresif, meski kebijakan tersebut berisiko menghambat pertumbuhan ekonomi domestik.

Krisis ini dipicu oleh penutupan Selat Hormuz yang mengganggu jalur distribusi sekitar 80% pasokan minyak mentah ke Asia. Lonjakan harga energi yang terjadi kemudian memicu inflasi dan menekan nilai tukar mata uang lokal terhadap dolar AS.

India, Indonesia, dan Filipina menjadi negara yang paling terdampak karena statusnya sebagai importir minyak sekaligus sasaran arus keluar modal asing. Di Indonesia, rupiah sempat tertekan hingga level 17.700 per dolar AS, sementara rupee India mendekati 97 per dolar AS dan peso Filipina hampir menyentuh 62 per dolar AS.

Pemerintah di negara-negara tersebut kini mengambil langkah tak biasa. India, misalnya, mengimbau warganya membatasi perjalanan luar negeri dan pembelian emas. Bahkan, Perdana Menteri Narendra Modi dilaporkan memangkas jumlah kendaraan dalam iring-iringannya sebagai upaya penghematan bahan bakar.

Di sisi lain, Indonesia merespons tekanan pasar dengan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin. Pemerintah juga melakukan intervensi melalui sentralisasi ekspor komoditas untuk menjaga pasokan valuta asing di dalam negeri. Namun, langkah ini justru memicu kekhawatiran investor.

Charlie Robertson, kepala ekonom global di FIM Partners, menilai pendekatan intervensi negara seperti yang dilakukan Indonesia dapat menurunkan minat investasi. “Itu bukan sesuatu yang akan mendorong orang untuk berinvestasi. Pendekatannya terlihat seperti intervensi negara,” ujarnya.

Senada dengan itu, kepala strategi ekonomi di Annex Wealth Management, Brian Jacobsen, menyoroti ketidakpastian regulasi di Indonesia. “Indonesia membutuhkan premi kompleksitas. Aturan bisa berubah dengan cepat. Itu adalah biaya tinggi dalam menjalankan bisnis,” ungkapnya.

Para analis memperingatkan bahwa ruang gerak bank sentral kini semakin sempit. Navin Saigal, kepala fixed income global Asia Pasifik di BlackRock, mempertanyakan efektivitas kenaikan suku bunga. “Berapa banyak kenaikan suku bunga yang benar-benar dibutuhkan untuk menarik modal masuk? Jawabannya bisa sangat banyak. Di sisi lain, apa dampak kenaikan suku bunga tersebut terhadap ekonomi domestik? Jawabannya juga bisa sangat besar,” kata Navin.

Meski bank sentral di India, Indonesia, dan Filipina masih memiliki cadangan devisa, para ahli meragukan bahwa pemulihan pasokan energi akan serta-merta mengembalikan kepercayaan investor. Ketidakpastian kebijakan dan risiko arus modal keluar diprediksi masih akan membayangi pasar keuangan Asia dalam waktu dekat.

Rekomendasi