Yogyakarta – Pemerintah menyoroti pentingnya penguatan literasi keuangan bagi masyarakat di tengah tren pertumbuhan minat investasi pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) retail. Meski jumlah investor individu telah mencapai satu juta orang, tingkat pemahaman masyarakat terhadap produk investasi dinilai masih perlu ditingkatkan.
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Suminto, mengungkapkan kekhawatirannya terkait banyaknya masyarakat yang terjun ke sektor keuangan tanpa dibekali literasi yang memadai. Padahal, edukasi menjadi kunci utama sebelum seseorang memutuskan untuk menanamkan modalnya.
“Tahun kemarin, 2025, kita menerbitkan SBN retail yang total sekitar Rp153 triliun. Tahun sebelumnya Rp148 triliun. Jumlah investor individual kita retail itu sekitar Rp1 juta. Investor individual,” ujar Suminto dalam acara Jogjakarta Financial Festival 2026, Sabtu (23/5).
Di sisi lain, Suminto menekankan bahwa SBN retail merupakan pilihan instrumen yang aman bagi pemula. Mengingat instrumen ini diterbitkan langsung oleh negara, risiko kerugian bagi investor diklaim sangat minim atau mendekati nol.
“Nah, SBN retail selain tadi memiliki fungsi sebagai sumber pembiayaan, juga sangat penting sebagai instrumen investasi bagi masyarakat, dan dia adalah zero risk instrument,” jelasnya.
Menurut Suminto, status Republik Indonesia sebagai pemegang kedaulatan menjadi jaminan utama keamanan instrumen tersebut. Oleh karena itu, ia merekomendasikan SBN retail sebagai langkah awal yang tepat bagi masyarakat yang baru ingin memulai perjalanan investasi mereka.






















