Jakarta – Musim pembagian dividen di pasar modal Indonesia masih terus berlanjut seiring dengan diselenggarakannya Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) oleh sejumlah emiten.
Langkah korporasi ini tetap menjadi sorotan di tengah fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menantang, dengan menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif dibandingkan instrumen perbankan konvensional.
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menjadi salah satu emiten yang telah mengantongi restu pemegang saham untuk membagikan dividen tunai tahun buku 2025.
Total nilai dividen yang akan didistribusikan mencapai Rp 21,9 triliun, atau setara dengan Rp 222,08 per lembar saham.
Berdasarkan harga penutupan perdagangan Selasa (9/6/2026) di level Rp 2.620 per saham, dividend yield yang ditawarkan emiten telekomunikasi pelat merah tersebut mencapai 5,89%. Angka ini secara signifikan melampaui rata-rata suku bunga deposito perbankan yang ada saat ini.
Selain Telkom, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) juga telah memastikan pembagian dividen final dari laba tahun buku 2025 senilai US$ 87 juta, atau sekitar US$ 0,0018 per saham.
Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turut meramaikan sentimen positif dengan mengumumkan pembagian dividen interim pertama tahun buku 2026 sebesar Rp 2,45 triliun, atau Rp 20 per saham.
Kebijakan ini merupakan bagian dari skema baru perseroan yang menerapkan pembagian dividen secara kuartalan. Selanjutnya, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dijadwalkan membagikan dividen tunai sebesar US$ 45,5 juta, yang setara dengan Rp 77,64 per saham.
Meskipun pembagian dividen menawarkan arus kas bagi investor, pandangan analis di pasar modal tampak terbelah.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai bahwa kondisi pasar yang tidak menentu membuat investor cenderung bersikap pasif.
Menurutnya, tekanan yang masif di pasar saham membuat pelaku pasar lebih memilih untuk memegang kas atau beralih ke instrumen obligasi yang dianggap lebih aman dan memberikan bunga pasti.
Nico menyebutkan kekhawatiran akan stagnasi IHSG menjadi hambatan utama bagi investor untuk masuk ke pasar saham saat ini.
Berbeda pandangan, Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, melihat pembagian dividen sebagai strategi defensif yang rasional di tengah koreksi IHSG yang mencapai 20% dalam sebulan terakhir.
Menurut Liza, ketika capital gain sulit dicapai dalam jangka pendek, dividen menjadi sumber pengembalian kas yang berharga.
Ia menambahkan bahwa saat ini merupakan momentum bagi investor untuk mengakumulasi saham-saham berfundamental kuat yang valuasinya sudah mendekati nilai wajar atau bahkan berada di bawah harga pasar.
Liza menegaskan bahwa risiko penurunan harga saham saat ini mulai terbatas.
Potensi kenaikan di masa mendatang dinilai cukup menarik apabila stabilitas Rupiah dan arus modal asing mulai menunjukkan perbaikan.
Strategi ini dipandang bukan sekadar mencari imbal hasil sementara, melainkan upaya untuk membangun posisi aset yang lebih kuat guna menyambut fase pemulihan pasar di masa depan.
Kiwoom Sekuritas saat ini memberikan atensi lebih pada saham-saham seperti BBRI, BBCA, INCO, dan MEDC sebagai pilihan investasi yang dapat dipertimbangkan dalam kondisi pasar saat ini.
























